Apa sebenarnya makna menulis buku dan buku tersebut dibaca orang? Perjalanan siang kemarin (14/05) membawa saya bertemu Ustad Yusuf Mansur (YM) di ruang bawah Masjid Indomobil. Jejak pertemuan itu tidak lepas dari pekerjaan saya sebagai perajin buku. Buku Ustad YM siap untuk dikemas menjadi powerful—sebuah pengalaman yang mengingatkan saya kali pertama juga berusaha mengemas dengan baik buku-buku Aa Gym.
Sambil menikmati santapan sup ikan, telinga saya menangkap berbagai cerita Ustad YM yang menggetarkan. Logat Betawi yang kental sekali-sekali mengundang geli. Sampai pada satu titik ruang sadar saya digedor. Jikalau banyak orang meraih hikmah sedekah, bagaimana dengan saya? Apakah saya seorang ahli sedekah? Allah bekerja dengan cara-cara misterius. Allah bekerja terkadang dengan disisipi canda.
Saya tercenung. Alhamdulillah, sebenarnya ada rahasia yang sudah saya sadari, tetapi Ustad YM kembali menstimulusnya untuk mengingat. Bukankah saya telah menulis 70 judul buku? Bukankah telah banyak orang yang mengirim SMS ucapan selamat, terima kasih, bahkan doa untuk saya? Inilah balasan dari sedekah gagasan seorang penulis lewat buku. Allah menyisipkannya, Allah membalasnya…. Padahal, terkadang karena sudah terlalu sering dan terlalu banyak, beberapa SMS saya abaikan hingga beberapa hari baru saya jawab. Padahal, di balik itu ada silaturahmi, di balik itu ada ucapan terima kasih, di balik itu ada doa, dan di balik itu ada rezeki.
Sebegitu hebatkah saya sebagai penulis buku? Bukan, bukan, karena buku saya menembus angka best seller. Bukan karena saya jago menulis buku. Berkah itu telah diundang dari doa-doa pembaca buku saya, dari rasa syukur pembaca buku saya, dan itu adalah gelombang dahsyat yang mengundang pertolongan Allah.
Rumah, mobil, motor, anak dan istri yang penuh kasih sayang, pekerjaan yang menyenangkan, akses ke dunia ilmu yang terbuka, PC dan laptop, gadget paling gress, posisi tawar yang tinggi, proyek-proyek penulisan yang terus berdatangan—semua ini memang nikmat dunia yang telah dititipkan Allah kepada seorang penulis buku seperti saya. Perjalanan keliling Nusantara, ke luar negeri, umrah, dan haji—semua ini keindahan dunia yang juga telah direncanakan Allah untuk saya dan telah pula saya jalani sebagai penulis buku. Dan saya menyadari bahwa ini adalah salah satunya buah doa dan syukur dari pembaca buku-buku saya.
Saya tidak boleh menafikan. Untuk itu, saya perlu mengucapkan terima kasih luar biasa, tulus, dan mendalam kepada para pembaca yang telah berpayah-payah ataupun penuh antusias mengontak saya via e-mail maupun SMS. Terima kasih buat mereka yang diam-diam mendoakan saya, mengamini saya, dan mengikuti jalan pikiran saya. Saya tidak sadar bahwa itulah jalan saya bersedekah yang direncanakan Allah buat saya: MENULIS BUKU. Sedekah apa? Saya memiliki kekayaan ilham, sedekah dari Allah; saya memiliki keterampilan merangkai tulisan, ilmu dari Allah maka kembali saya sedekahkan dalam bentuk karya kepada pembaca. Dan dari situ muncullah balasan berkali-kali lipat, baik berupa materi maupun nonmateri.
Sahabat-sahabatku, tulisan ini memang berisi cerita nikmat. Nikmat sebagai seorang penulis buku. Ingatlah doa-doa para pembaca buku bisa menembus ruang dan waktu. Jangan ragu untuk membuka diri saat Anda menulis buku dengan mencantumkan nomor hp ataupun alamat e-mail. Berinteraksi dan bersilaturahmilah dengan pembaca Anda.
Penulis buku adalah pemilik tangan di atas karena ia menampung ilham juga dari atas. Pembaca buku adalah pemilik tangan di bawah karena mereka dahaga akan ilmu dan pencerahan. Lalu, pembaca buku mendoakan sang penulis maka Allah mencatatkannya sebagai balasan atas satu kebaikan menulis buku. Semakin banyak pembaca yang berdoa dan berterima kasih, semakin berlipat balasan tersebut. Semakin banyak pembaca menjadi baik, semakin berlipat lagi balasan itu. Lalu, mengapa Anda belum menulis buku juga hingga saat ini?
May 15, 2008
Horaayy..there are 5 comment(s) for me so far ;)
Bagi saya penulis adalah orang yang jenius, mempunyai air mancur di kepala yang tak henti menyemburkan ide seperti lumpur lapindo itu lho pak…. cuma air muncratnya gak menyengsarakan orang malah sebaliknya, mencerahkan. Saya setuju penulis adalah pemilik tangan di atas karena posisinya adalah pemberi, sementara pembaca penerima. Jadi nulis juga sama seperti sedekah akan mendapat pahala, selain doa orang banyak tentunya. Tapi bukan berarti penulis gak boleh sedekah selain tulisan lho pak :).
Saya juga ikutan doain pak Bambang lah… walaupun lom sempat baca bukunya. Moga-moga aja air mancur ilhamnya ngalir ke saya dan muncrat dari kepala saya juga.
Jadi kepingin juga suatu saat nanti menulis sebuah buku. Minta doanya ya Pak.
Insya Allah saya doakan semua nih biar bisa nulis buku dan jadi yang terbaik. Jangan lupa, ada training “Menulis Buku untuk Orang Awam” tanggal 9 Juli di Hotel Alia Cikini, Jakarta. Boleh tuh ikut sambil silaturahmi dengan saya.
Wah kapan saya bisa menulis buku seproduktif Pak Bambang Trim.
Rahasianya apa ya agar bisa menulis banyak judul buku?
Insya Allah Mbak Tati, pasti bisa. Allah sudah memberi kita banyak peristiwa dan pengalaman dalam setiap hari. Ide-ide bertebaran di mana-mana. Ambil satu saja hari ini, besok-besok ambil yang lain. Tekadkan menuliskannya menjadi buku. Selamat berkarya.