post Category: Serbaneka — admin @ 7:33 am — post

Saya kurang suka dengan nasihat: “Biarkan hidupmu mengalir mengikuti alur kehidupan.” Saya merasa hukumnya hidup memang sudah bergulir atau mengalir, tetapi alur kehidupan adalah sebuah pilihan bagi kita meskipun di situ ada campur tangan Tuhan.

Saya tentu tidak ingin terseret arus kehidupan, apalagi arus liar yang membuat saya hilang kesadaran. Dan saya memang memerlukan kesadaran itu pada saat usia sudah melampaui angka 36 tahun. Tepat 29 Juni kemarin, saya genap berusia 36 tahun.

Dalam prolognya pada acara syukuran milad saya sembari bersilaturahmi dengan para sahabat, dr. Tauhid Nur Azhar, sahabat saya menceritakan sulitnya proses melahirkan seorang ibu. Lalu, Dokter menghubungkan dengan rasa syukur dalam bentuk perayaan ulang tahun sebagai upaya menanamkan kesadaran diri–bukan hanya karena usia sudah bertambah, melainkan juga mau ke mana kita melangkah.

Saya terkadang merasa sudah mencapai puncak kesadaran. Namun, kadang-kadang saya juga kerap tergelincir pada tipuan-tipuan yang semakin canggih. Lalu, sampailah pada ujung pertanyaan: apa sebenarnya yang saya cari? Lebih kurang hidup sebenarnya mencari kebahagiaan. Dan kadang kebahagiaan itu saya temukan dalam riangnya gadis kecil saya, Valya, atau juga dalam tangisnya yang menggelikan. Bahagia itu adalah sebuah kabar untuk orangtua dan juga istri saya bahwa saya hari ini telah lebih baik dari hari kemarin.

Saya pernah menemukan puncak kebahagiaan itu di Tanah Haram, ketika bermunajat sendirian di Arafah. Saya bahagia ada dalam padang ketundukan kepada Sang Khalik dan sekaligus bersedih karena tidak ada orang-orang yang saya cintai berada di dekat saya. Kebahagiaannya adalah bahwa saya sedang mengumpulkan tekad dan munajat bisa membawa kedua orangtua saya serta istri dan anak saya bersama-sama ke Baitullah. Harapan itu saja sudah merupakan kebahagiaan. Lalu, bagaimana hidup bahagia dengan hanya mengalir begitu rupa?

Setelah 36, saya tidak merasa menemukan puncak kefasihan. Tulisan dalam bentuk buku sudah bertebar di mana-mana. Sahabat-sahabat datang dan pergi, pun problema muncul silih berganti. Baru kemudian saya sadar hidup ini memerlukan GPS–global positioning system. Kita mesti tahu posisi kita dan ada peta jalan hidup yang HARUS KITA PILIH, apakah itu jalan pintas, jalan menghindari kemacetan, jalan menikmati pemandangan, atau bahkan jalan untuk sekadar dapat singgah di warung makan favorit. Agar GPS bisa beroperasi, tentu saya harus menginstall dulu KESADARAN-KESADARAN usia. Posisi 36 adalah posisi rawan untuk bertemu semakin banyak simpang dan tikungan.

Dr Tauhid mengisyaratkan bahwa dalam dua tahun lagi saya bisa mengoptimalkan potensi diri sebesar-besarnya. Dalam arti pada usia 38 tahun semestinya saya sudah bisa mencapai puncak karier dan kemampuan. Saya memang sudah memetakannya bahwa dalam usia 40 tahun saya harus sudah berhenti menebar benih materi. Saya harus sudah memulai kegiatan berbagi dan berbagi. Lalu, hidup ini pun terus melaju, tetapi kita sudah merancang teraju….

Salam hangat dalam usia 36 tahun!

Horaayy..there are 2 comment(s) for me so far ;)

#1

Papa valya, tulisan anda menyentuh hati saya sekali (19 tahun). benar memang yang kita cari adalah kebahagiaan dalam kehidupan kita ini. dan saya pun setuju tidak perlu kita mengikuti arus yang sudah ada yang bisa membuat kita hanyut ataupun luka terpentok batu. jadilah cabang anak sungai yang arusnya kecil namun pasti berguna untuk kanan kiri kita.. (disaat ini lah mungkin kita telah membuat terobosan baru) memberi air semangat dari dalam diri kita untuk mereka. tak ada yang lebih indah dari bergunanya diri kita untuk orang lain. disaat kita bukan lagi dilayani namun telah melayani..

Mega ratu wrote on November 17, 2008 - 2:34 am
#2

Papa valya, tulisan anda menyentuh hati saya sekali (19 tahun). benar memang yang kita cari adalah kebahagiaan dalam kehidupan kita ini. dan saya pun setuju tidak perlu kita mengikuti arus yang sudah ada yang bisa membuat kita hanyut ataupun luka terpentok batu. jadilah cabang anak sungai yang arusnya kecil namun pasti berguna untuk kanan kiri kita.. (disaat ini lah mungkin kita telah membuat terobosan baru) memberi air semangat dari dalam diri kita untuk mereka. tak ada yang lebih indah dari bergunanya diri kita untuk orang lain. disaat kita bukan lagi dilayani namun telah melayani..

Mega ratu wrote on November 17, 2008 - 2:34 am
You can leave a response, or trackback from your own site.

Write Your Comment

Comment Guidelines: Basic XHTML is allowed (a href, strong, em, code). All line breaks and paragraphs will be generated automatically.

You should have a name, right? 
Your email address, I promised I won't tell it to anyone. 
If you have a web site or blog, you can type the URL right here. 
This is where you type your comments. 
Remember my information for the next time I visit.