“Saya tidak akan menulis buku dengan mengikut tren (selera) masyarakat. Tapi, saya akan menulis sesuai dengan idealisme tentang apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat.”
Kalimat model kebulatan tekad seperti ini terkadang ditegaskan oleh para penulis, baik pemula maupun sudah bukan pemula lagi. Seolah-olah ada dikotomi antara tren penulisan dan kebutuhan masyarakat. Dan saya merasa ini adalah kalimat disorientasi dari seorang penulis.
Mengapa disorientasi? Ya, seolah-olah menulis buku mengikuti tren bukanlah idealisme. Lalu, seolah-olah menulis buku yang dibutuhkan oleh masyarakat bukanlah mengikut tren. Perlu diingat bahwa munculnya sebuah tren terkadang karena dipicu oleh kebutuhan.
Contoh klasik yang sering yang saya kemukakan adalah ketika terjadi penurunan harga laptop atau munculnya laptop-laptop murah. Hal ini memicu pembelian laptop besar-besaran dan kemudian menjadi tren penggunaan laptop, terutama juga dipicu oleh munculnya berbagai fasilitas hot spot di tempat-tempat umum. Dari tren penggunaan laptop ini kemudian muncul kebutuhan masyarakat akan pengetahuan soal memilih dan merawat laptop. Penulis yang jeli akan memanfaatkan tren dan sekaligus kebutuhan ini untuk menulis buku tentang laptop.
Dalam penulisan bukunya kemudian sang penulis bisa menampakkan idealismenya. Apakah ia akan menulis buku laptop yang asal jadi atau dia menulis buku laptop yang benar-benar berdasarkan hasil riset kebutuhan masyarakat pengguna laptop. Tentu hal ini berbeda dengan kutipan tekad di atas.
Menulis buku populer juga membutuhkan idealisme dari penulis. Menulis buku yang serius pun sama-sama membutuhkan idealisme. Bahkan, Bondan Winarno sempat menyindir dikotomi antara buku serius dan buku populer. Menurut dia: “Menulis buku itu saja sudah saya anggap serius. Bagaimana mungkin ada pula kategori buku serius?”
Kalau dianggap bahwa penerbit mementingkan market dan alhasil disebut bahwa buku yang marketable itu cenderung buku yang tidak bermuatan idealisme, hal itu sungguh keliru. Jangan campur adukkan pengertian buku populer yang marketable dengan aktivitas penerbitan yang tidak profesional sehingga menggarap buku populer maupun buku tidak bergenre pop secara asal-asalan. Tidak semua penerbit begitu bodohnya mau menerbitkan buku bergenre pop dengan asumsi asal laku.
Benar ada asumsi: “Buku yang laku, belum tentu buku yang bagus. Buku yang bagus, belum tentu buku yang laku!” Tapi, dalam asumsi ini terdapat satu lagi: “Buku yang laku sekaligus buku yang bagus!” Siapa penulis dan penerbit yang bisa menghasilkannya? Tentu saja mereka yang bermental pejuang sekaligus bermental juara. Tidak peduli buku itu bermuatan fiksi, nonfiksi, ataupun faksi semuanya digarap secara apik dan profesional.
Ada satu hal yang patut dipikirkan seorang penulis buku mengapa ia harus menerbitkan bukunya. Hal yang terpenting itu adalah bukunya dibaca sebanyak mungkin orang. Dengan demikian, buah pikirannya bisa sampai ke sebanyak mungkin orang sehingga dampaknya buku menjadi laris. Bukan soal uang yang dipikirkan, melainkan bagaimana buku tersebut mempengaruhi sebanyak mungkin orang. Dan kita tahu pada zaman serba canggih seperti saat ini tentu diperlukan kiat tersendiri menarik perhatian orang untuk membaca buku kita. Itulah sebabnya dibutuhkan orientasi terhadap marketing. Mustahil sebagai penulis kita bertahan tanpa ada idealisme sedikit pun tentang pengemasan maupun pemasaran buku.
Okelah Anda sebut bisnis itu tidak idealis, yang idealis itu adalah membuat sebuah buku penting penuh filosofi dan pemikiran. Lalu, siapa yang kira-kira mau membaca buku Anda? Anda mungkin berpikir sejenak untuk menjawab dan ketika itu pula, Anda sebenarnya sudah berpikir soal pasar dan promosi. Bagaimana Anda mengatakan pasar dan promosi itu tidak idealis?
So what gitu lho? Nggak usah pusing-pusing dah, tulis saja apa yang Anda pikirkan dan pikirkan dulu apa yang hendak Anda tuliskan. Ujung-ujungnya pasti pembaca sasaran: siapa saja dan berapa besar yang ingin Anda tuju!
written by Bambang Trim
August 18, 2008
Sorry, no comments yet.