Anda bisa memilih karier di tiga bagian inti penerbit, yaitu Bagian Redaksi/Editorial, Bagian Produksi, dan Bagian Pemasaran. Dua bagian yang pertama membutuhkan spesialisasi dalam aktivitas pekerjaannya, sedangkan bagian terakhir sama kita ketahui memerlukan kelihaian dalam hal promosi, distribusi, dan penjualan.
Penerbit buku menghasilkan produk yang bernama buku—produk intelektual yang bagi sebagian masyarakat Indonesia belum masuk kategori kebutuhan utama. Namun, seiring kesadaran dan kebutuhan masyarakat akan ilmu serta informasi, produk buku makin tinggi peminatnya sehingga fenomena best seller di Indonesia pun bergeser dari angka 10.000 ke 50.000 eksemplar. Jadi, telah ada beberapa buku di Indonesia (di luar buku pelajaran) yang mampu menembus angka penjualan 50.000 eksemplar. Karena itu, kebutuhan buku untuk masa mendatang bisa diprediksi akan lebih besar lagi dan akan semakin dibutuhkan tenaga profesional untuk mengolahnya.
Nah, kembali ke tiga bagian besar tadi, mari kita lihat ada apa di sana.
Bagian Redaksi/Editorial merupakan bagian dapur penerbit yang meramu naskah mentah dari penulis hingga menghasilkan naskah siap cetak. Di bagian ini ada pekerja profesional yang disebut editor (penyunting naskah). Di sebuah penerbit besar, editor dibagi-bagi lagi dalam tugasnya, seperti copyeditor yang khusus menangani penyuntingan naskah, acquiring editor yang khusus mencari naskah, dan rights editor yang khusus mengurus hak cipta dan perizinan buku. Copyeditor merupakan jenjang karier yang paling rendah, kemudian seseorang bisa naik menjadi editor atau senior editor (paling tidak setelah berkecimpung tiga tahun dalam dunia penyuntingan setingkat kepala bagian), lalu managing editor (setingkat asisten manajer atau manajer), dan chief editor (setingkat manajer atau general manajer).
Profesi editor banyak dicari oleh penerbit, namun pasokannya kerapkali tidak ada. Jarang benar orang Indonesia terpikir untuk menjadi editor. Hanya ada dua pendidikan formal yang melatih calon editor, yaitu Program Studi D3 Editing Unpad dan Jurusan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta. Jadi, kebanyakan yang kini bertebaran di penerbit adalah para otodidak dan mereka memahami dunia penyuntingan naskah lewat learning by doing ataupun mengikuti training khusus yang kerap diselenggarakan IKAPI atau Pusat Perbukuan (Pusbuk).
Peluang karier editor masih sangat terbuka, terutama bagi mereka yang memiliki keterampilan tinggi dalam hal menulis, sekaligus kemampuan berkomunikasi yang baik termasuk dalam bahasa Inggris atau bahasa Arab. Penghasilan tidak usah ditanya. Editor sekarang yang benar-benar profesional bisa bergaji lumayan dan mendapat fasilitas memadai dari penerbit, plus punya kesempatan plesiran ke luar negeri dalam even-even pameran buku internasional, seperti Kuala Lumpur Book Fair, Kairo Book Fair, hingga Frankfurt Book Fair.
Bagian Produksi merupakan bagian pengolah naskah hasil editing menjadi siap disajikan secara context (kemasan). Ada beberapa profesi di bagian ini yang disebut layouter (penataletak naskah), desainer (pendesain penampilan cover maupun isi buku), dan ilustrator. Pekerjaan di bagian ini sekarang full computerized sehingga pelakonnya juga adalah mereka yang memahami penggunaan software desktop publishing, sekaligus juga seniman dan operator mesin pracetak untuk pekerjaan image setter atau pembuatan film cetak (camera ready copy).
Para pekerja di bagian produksi umumnya secara pendidikan formal adalah para lulusan program studi desain komunikasi visual (dulu desain grafis dengan tingkat D1, D3, hingga S1), jurusan seni rupa, dan juga dari STM Grafika. Spesialisasi pengetahuannya adalah desktop publishing, desain/perwajahan, pewarnaan (colouring), dan pengoperasian komputer desktop serta mesin-mesin pracetak, seperti scanner, laser printer, image setter, dan pekerjaan yang kini berbasis komputer seperti mounting/imposisi.
Kebutuhan penerbit akan profesi di Bagian Produksi ini juga sangat tinggi. Karena terbatas, aksi bajak-membajak pun kerap terjadi. Bagian ini memang butuh skill yang tinggi, terutama bagi mereka yang juga memiliki kecepatan dalam bekerja. Karena itu, penerbit juga tidak segan membayar tinggi untuk hasil kerja 3Q, yaitu quick (cepat), quality (berkualitas), dan quantity (banyak).
Bagian pemasaran merupakan ujung tombak untuk mempertemukan produk buku dengan pembacanya yang potensial. Tiga kegiatan utama adalah promosi, distribusi, dan penjualan seperti halnya pemasaran produk lain. Akan tetapi, pemasaran buku mengandung hal-hal unik, seperti dalam penentuan harga yang tidak hanya berbasis harga pokok produksi (hpp), penentuan diskon yang tergolong besar untuk toko buku atau distributor, cara-cara berpromosi kreatif, serta penjualan dengan sistem konvensional maupun inkonvensional.
Apa yang penting dipahami bahwa pemasar buku hendaknya orang-orang yang paham benar tentang kecenderungan minat baca masyarakat (pada buku apa), mekanisme pasar buku yang biasa berlaku di Indonesia maupun di dunia, 4 P (product, place, price, promotion), pesaing penerbit, benchmarking penerbit, serta senang membaca buku. Kalau seorang pemasar buku menguasai hal-hal tadi, khususnya produk buku, ia akan menjadi ’rising star’ pemasar buku yang paling dicari penerbit buku. Gaji dan bonus menantang menantinya.
***
Speed, speed, speed, and skill. Dunia penerbitan buku di Indonesia bergerak dinamis dan cenderung tancap gas. Meskipun ditengarai kita ada di belakang Malaysia, tengoklah sejenak bagaimana Indonesia bisa memproduksi buku secara komprehensif sangatlah baik. Ini bukan cerita khayal.
Dr. Hamedi Mohd. Adnan, Ketua Jurusan Pengkajian Media yang menyelenggarakan program S1 hingga S3 penerbitan buku di University Malaya, Desember lalu sempat bertandang ke Bandung. Doktor dalam bidang penerbitan itu mengaku surprise dengan kemajuan penerbitan buku di Indonesia, baik dalam hal editorial, produksi, maupun pemasaran. Buku asing yang terbit di luar hanya dalam rentang beberapa bulan sudah terbit versi Indonesianya, padahal di Malaysia hal seperti itu tidak pernah terjadi. Desain-desain perwajahan isi dan cover Indonesia sangat trendy, jauh dengan buku-buku Malaysia yang masih berkutat dengan model lama. Buku laku di Malaysia masih pada tiras 3.000 eksemplar dalam rentang beberapa tahun, tetapi di Indonesia kini muncul buku-buku pemecah rekor jual di atas 50.000 eksemplar dalam rentang kurang dari setahun, sebut saja Financial Revolution karya Tung Desem dan Jakarta Undercover karya Moamar Emka.
Mengapa kita tidak mencium hal ini sebagai peluang? Indonesia bisa melangkah menjadi pusat buku ASEAN. Karena itu, kiprah di dunia buku sangat layak untuk dilirik—mumpung masih jarang pesaing.
March 17, 2008
Horaayy..there are 3 comment(s) for me so far ;)
wah..makin bernas aja Pak Trim…
pak Bambang yang saya hormati, website nya forum editor tuh bener forumeditorindonesia.com?kok saya buka isinya lain? saya pingin soft copy waktu kepelatihan nulis FEI di jogja april 2007 lalu, gimana caranya? Apa Bapak tahu ada lowongan editor?saya penulis lepas tapi kok lama-lama pingin jadi editor ya pak. Mohon informasi ya pak
Pak bambang, terimakasih banyak atas jawabannya dan balasan dari saya sudah saya kirim ke email Bapak. Terimakasih