post Category: Serbaneka — admin @ 7:39 am — post Comments (0)

Sehabis bertemu dan makan pagi dengan Fauzul Na’im Ishak, penggiat buku dari PTS Malaysia, saya langsung meluncur ke Gramedia Matraman. Masih kepagian sebab waktu baru menunjukkan pukul 8.30. Akhirnya, saya pilih ngopi dulu di Dunkin Donuts.

Sembari berharap-harap inspirasi, saya mengecek hp, kalau-kalau ada SMS yang belum terjawab. Malam sebelum melesat ke Jakarta, saya ingat sempat membuka inbox e-mail dan ada e-mail dari Andi Bombang. Andi Bombang mengaku seorang penulis novel dan novel perdananya adalah Kun Fayakuun yang diterbitkan Diva Press. E-mailnya panjang bener nyaris menyamai cerpen. Saya tertegun sejenak.

Di Dunkin saya iseng SMS beliau. “Mas saya lagi di Gramed Matraman nih. Email yang lumayan panjang sudah saya terima :-). Di sini lagi stimulus inspirasi. Layaknya kita bersua biar saling tahu ekspresi.” Tak dinyana Sang Andi Bombang membalas dan siap meluncur ke Gramed dari Selatan Fatmawati.

Saya tak terbebani menunggu karena Gramedia pun membuka diri. Tanpa membuang waktu, saatnya mengecek buku-buku best seller–tempat favorit saya. Luar biasa, “Laskar Pelangi” dan sekuelnya masih betah di rak best seller. Ada buku Ippho Santosa “13 Jurus Terlarang …” dan ada pula buku yang mengulas sukses Andrea Hirata, “Laskar Pelangi The Phenomenon”. Rak demi rak saya jelajahi untuk sekadar mencerap ruh-ruh best seller agar masuk ke aliran darah dan membawanya sampai ke otak. Nah, ini dia!

Tiba-tiba muncul ide tidak biasa. Saya mencatat hampir keseluruhan buku best seller. Mengecek jumlah halamannya dan sekaligus harganya. Tak lupa nama penulisnya pun dicatat dan saya bubuhi beberapa catatan di communicator. Paling tidak catatan ini bisa buat bahan seminar atau training nanti, plus juga rencana penerbitan 2009.

Saya sungguh tertarik dengan buku “Rahasia Kecerdasan Yahudi” yang diterbitkan oleh Pinus dan ditulis oleh A. Maheswara. Sejak diterbitkan November 2007, buku ini sudah delapan kali cetak ulang. Saya tertegun sejenak, apa yang membuat buku ini best seller. Oh, pasti begitu besar keingintahuan orang tentang Yahudi. Padahal, buku ini ditulis sederhana, bahkan terkadang banyak terdapat kesalahan elementer bahasa dan pengetikan. Gak tanggung-tanggung buku ini ditongkrongi satu editor, satu korektor, dan satu proofreader. Tapi, kok ya masih salah … He-he-he, gak terlalu penting mungkin, yang penting buku ini sudah 8 kali cetak ulang!

Singkat cerita saya mampir ke rak majalah membeli Matabaca bulan Oktober, lalu mencomot dua majalah Concept terbaru. Eh, seseorang berperawakan tinggi dengan wajah sedikit keras menyapa saya. Dia memperkenalkan diri sebagai Andi Bombang, putra Makassar, lulusan ITB, yang menclok berkarier di Jakarta.

Andi Bombang bukan penulis biasa. Saya menyebutnya ‘unusual writer’. Ia dalam bahasa saya ‘memelas’ hendak larut dalam dunia kepenulisan. Ini yang tidak biasa. Andi Bombang sempat berkarier sebagia manajer di anak perusahaan Medco Energy. Peluang dan penghasilan dari kariernya ini tentu tidak sembarangan. Namun, aneh, Andi Bombang ingin menjadi sastrawan ataupun penulis profesional dari hati paling dalam.

Ah, Mas Bombang, yang saya tahu banyak calon penulis ingin melebur ke dunia kepenulisan karena gagal berkarier seperti yang dia inginkan. Tapi, orang seperti Anda tidak biasa dan logikanya jadi terbalik. Anda yang sukses berkarier di tempat lain, justru malah tertarik ke dunia lain. Saya kira dia memang mirip Tom Clancy, dari pialang saham menjadi penulis novel.

Mas Bombang bilang ingin berguru pada saya. Ha-ha-ha, saya bilang, “Nama kita nyaris sama Mas, Bombang dan Bambang. Di mana-mana huruf ‘o’ itu lebih maju beberapa langkah dari huruf ‘a’. Anda sebenarnya lebih hebat!” Dia pun tertawa dan pertemuan perdana kami cepat membuat kami akrab satu sama lain.

Ini baru penulis unik! Bombang menyerahkan dua novelnya sebagai hadiah, saya pun membalasnya dengan memberi Business Wisdom of Muhammad saw. Ia mengaku sedang menyelesaikan novel keempatnya. Saya mengundangnya ke Bandung untuk diskusi dan berbagi lebih intens. Tak lupa saya pun memesan novel dengan setting jagoan untuk produksi 2009. Ia menyanggupi dan tampak binar semangat di mata penulis yang tidak biasa ini.

Terima kasih Mas Bombang, pertemuan dengan Anda hari kemarin membuat puncak kesadaran saya bertambah. Pursuit of happyness. Selamat berjuang menjadi penulis sejati. Writing is not a job, it’s a business. So, enjoy it!

post Category: Good Publishing — admin @ 7:05 pm — post Comments (0)

“Will America Change?” inilah salah satu judul buku yang menarik perhatian saya dari arena Frankfurt Bookfair. Buku karya Ziauddin Sardar dan Merryl Wyn Davies terbitan Icon Book. Pertama, karena memang saya mengunjungi pameran buku terbesar di dunia ini ketika dunia memasuki ambang krisis global yang disebabkan Amerika. Kedua, tentu saja karena dalam hitungan minggu, pemilihan presiden Amerika paling menarik dalam sejarah segera terjadi antara Obama dan McCain. Sempat juga saya melewati sebuah booth yang juga tengah mengusung buku bertema krisis global. Rupa-rupanya aroma krisis juga menjadi tema menarik untuk digagas menjadi buku. Dan memang saya perkirakan dalam masa-masa ini banyak penerbit tengah berancang-ancang menerbitkan buku bertema krisis.

Ingatan kembali pada masa sepuluh tahun lewat ketika tahun 1997 Indonesia pun terkena imbas krisis dunia, bahkan termasuk paling parah karena juga ditingkahi krisis politik. Tiba-tiba topik buku ‘beternak jangkrik’ menjadi primadona sebagai alternatif solusi usaha. Bahkan, terbit pula tabloid Peluang Usaha yang benar-benar menuai sukses karena menghimpun sekian lowongan kerja serta mengetengahkan berbagai peluang kerja. Seiring dengan krisis yang mulai berakhir, tabloid tadi pun menghilang dari pasaran. Namun, muncul lagi pada akhir tahun lalu.

Krisis tentu menjadi sebuah kecenderungan perbincangan yang akhirnya menjadi menarik untuk dibahas lebih dalam lewat buku. Bahkan, mungkin muncul pula fiksi atau novel soal krisis, baik yang berlatar belakang thriller, percintaan, atau bahkan humor. Ah krisis memang membuat miris, tetapi juga bisa menjadi bahan inspirasi yang laku laris manis.

So, bagaimana kalau terjadi krisis buku akibat para penerbit justru gulung tikar termakan krisis. Pada periode 1997-1998 memang hampir 50% anggota Ikatan Penerbit Indonesia gulung tikar, terutama penerbit buku pelajaran karena menurunnya daya beli, sekaligus menurunnya daya produksi.

Tahun ini kondisi tidak jauh berbeda, mulai memasuki masa-masa sulit. Harga kertas yang terkadang terkait dengan dollar diperkirakan akan melambung tinggi. Ongkos produksi menjadi naik, sementara daya beli turun drastis karena buku belum dianggap sebagai kebutuhan utama. Parahnya, bagi penerbit buku pelajaran, mereka juga menghadapi regulasi pemerintah yang kurang bersahabat dengan pemberlakuan buku sekolah elektronik dan penetapan harga pagu yang ‘kurang masuk akal’ bahwa buku pelajaran harus dijual dengan harga di bawah Rp15.000. Pemerintah membeli semua hak cipta buku pelajaran langsung dari penulis atau penerbit. Lalu, penerbit pun dilarang menjual buku langsung ke sekolah dan sekaligus harus menjual buku yang sudah disahkan tersebut. Para penerbit bupel memang di ambang sakaratul maut, ditambah mati lebih cepat dengan krisis yang sudah pula di depan mata.

Wah, wah, saya sulit memprediksi. Tapi sebagai praktisi di dunia buku, khususnya buku umum, saya masih optimis tetap ada peluang masyarakat Indonesia untuk membaca buku. Tinggal menetapkan apa yang menjadi kebutuhan pada masa krisis. Novel? Mungkin jika orang ingin dihibur saat krisis. How to? Ya, jika orang ingin mendapat pelajaran pada masa krisis. Self-improvement? Tentu, jika orang ingin tetap disemangati saat krisis. Buku anak? Ah, anak-anak pasti tidak mau tahu dunia krisis apa enggak. Humor? Perlu buat mereka yang mulai sakit jiwa ringan akibat krisis. Kesehatan? Yes, untuk mereka yang mulai kumat karena krisis. So, whatever, kita mesti tetap optimis.