post Category: Serbaneka — admin @ 7:42 am — post Comments (0)

Matabaca, majalah perbukuan, jendela dunia pustaka.

Entah mengapa masih saja ‘keras kepala’. Terbit tangguh dalam masyarakat tak tahu ataupun tak mau tahu soal dunia penyangga intelektual Indonesia. Tepat Agustus, Matabaca yang ‘keras kepala’ telah berusia 6 tahun dalam jagat perbukuan nasional.

Terbit bersampul biru menjelang merdeka. Matabaca membahas hulu hilir dunia buku; Buku dari A-Z. Di sebuah sudut Dunkin Donats kemarin, saya menghadiahkannya satu eksemplar untuk seorang penggiat buku di bidang marketing. Ia takjub, “Ini yang saya cari! Saya tidak tahu kalau ada majalah seperti ini!” Wah, The Poor Matabaca, yang terlupakan atau yang tidak diketahui bukan saja awam, melainkan para penggiat buku.

Berapa banyak editor di bumi Indonesia ini yang tahu atau mau tahu tentang Matabaca. Berapa banyak marketing buku di sini yang juga perlu baca. Matabaca tak seperti almarhum Berita Buku yang diterbitkan IKAPI beberapa tahun lampau. Matabaca juga tidak seperti buletin IKAPI yang terbit kembang kempis tak tentu waktu. Matabaca terbit setiap bulan dengan topik yang tak kalah keren.

Dalam sebuah silaturahmi penerbitan dengan sebuah penerbit bernama besar, saya tunjukkan Matabaca bersampul biru, “Ada yang sudah membaca ini?” Hampir semua menggeleng tanda tak tahu. Padahal, apa yang ingin dibahas paling tidak 40% ada di dalam Matabaca.

Matabaca memang proyek idealis Gramedia. Kelahirannya dibidani Frans M. Parera, pejuang buku Indonesia yang terkadang berapi-api bicara soal buku untuk tidak menyebutkan terkadang ‘keras kepala’. Seperti juga Matabaca yang ‘keras kepala’, entah untung entah tidak menerbitkannya.

Matabaca tampak ‘keras kepala’, tetapi terlihat berkompromi dengan tren dan budaya massa. Matabaca sempat tampil funky. Isinya pun terkadang lekat dengan popularitas kini dan bukan kumpulan tulisan muram dunia buku ataupun tulisan para intelektual berkacamata tebal yang introvert. Matabaca pro dengan pembacanya, generasi baru masyarakat buku meskipun pemimpinnya tidak lagi muda. Dia Frans M. Parera yang ‘keras kepala’, sudah tua tapi tetap bergaya.

Maka kita sadar terjun ke dunia buku karena tidak sengaja. Maka kita sadar begitu minim pengetahuan tentang perbukuan, baik itu penulisan, penyuntingan, penataletakan, bahkan pemasaran. Kita kerap egois dengan ketidaktahuan. Kita buat dikotomi kasar antara buku pelajaran, buku perguruan tinggi, buku spiritual, dan buku umum populer. Kita anggap menggagas buku itu sulit dan memproduksinya juga sulit, tapi kita gagap tidak mau belajar sehingga dunia buku menjadi arus deras yang mematikan.

Kebanyakan penerbit buku di Indonesia adalah family business. Fase tahun 2000-an adalah fase perpindahan tongkat estafet bisnis dari ayah-ibu kepada anak-anaknya. Apa yang terjadi, anak-anaknya masih hidup pada zaman ayah-ibunya; sementara ayah-ibunya pun sudah rabun jauh soal masa depan perbukuan. Tentu saja mereka tidak membaca Matabaca, bahkan mungkin tidak pernah tahu ada ‘anak kecil’ berusia 6 tahun yang lebih paham soal perbukuan daripada mereka, itu si Matabaca.

Matabaca usia enam tahun, anak kecil yang berkepala batu, mungkin seperti Sutan Sjahrir. Masih mending dibandingkan seperti Mochtar Lubis yang berkepala granit. Keras kepala adalah karakter yang terkadang dibutuhkan untuk bertahan pada zaman ombang-ambing dan iming-iming. Matabaca mungkin kalah menarik dengan Popular, Maxim, atau FHM. Matabaca mungkin kalah tenar dengan Tempo atau GATRA. Matabaca mungkin kalah glamour dengan Dewi atau Femina. Matabaca mungkin kalah canggih dengan T&T atau Gadget. Tapi semua fenomena yang ada di majalah-majalah beken itu terbaca oleh Matabaca karena ia ‘keras kepala’ ingin tahu.

Izinkan saya memproklamasikan Matabaca sebagai bacaan wajib insan perbukuan (masyarakat membaca dan masyarakat menulis). Merdekakan dunia buku kita dari belenggu ketidaktahuan yang sering menjadi kebanggaan: Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga akan dosa-dosa …. (Ebiet G. Ade). Alhasil, kita tidak pernah sadar ada seorang anak kecil usia 6 tahun yang lebih paham tentang dunia–yang telah kita geluti puluhan tahun.

Jangan terpengarah, banyak penerbit bayi yang kini lebih agresif dan atraktif daripada penerbit-penerbit The Legend dengan nama besar yang menggetarkan. Mungkin para penerbit bayi itu adalah pemamah Matabaca dan mereka sama keras kepalanya.

Catatan Kemerdekaan Buku,

Bambang Trim
Praktisi Perbukuan Nasional

www.bambangtrim.com

post Category: Good Writing — admin @ 7:05 am — post Comments (0)

Hari Gini Belum Nulis Buku?
Ah, yang bener ….

Seorang mantan direktur BUMN dengan wajah serius mengatakan bahwa ia ingin menulis buku. Seorang ustadz dengan wajah berbinar menyebutkan ia ingin menulis buku. Seorang dosen dengan penuh harap menyatakan ia harus menulis buku. Seorang ibu rumah tangga dengan bersemangat mengaku akan menulis buku. Seorang remaja dengan ceria berkata, “Aku harus menulis buku!” Bagaimana dengan Anda? Tunggu apa lagi?

Menulis buku memang sebuah proses. Buku tidak terjadi begitu saja. Proses itu dimulai dari niat dan tekad, lalu stimulasi ide. Stimulasi diikuti dengan perencanaan, penulisan, dan penyuntingan. Di penerbit buku sendiri, buku pun mengalami proses panjang dan rumit (baca Matabacaedisi Agustus 2008 dengan tajuk A-Z Penerbitan Buku).

Karena itu, wajar jika seorang penulis buku harus berbangga dengan hasil karyanya. Tidak gampang menghasilkan sebuah buku, apalagi kemudian buku itu diburu pembaca.

Masalahnya niat dan tekad kerapkali terpendam atau lewat begitu saja waktu demi waktu. Anda ternyata memerlukan stimulus atau motivasi dari luar. Namun, seberapa kuat pun motivasi dari luar, ia tidak akan berpengaruh banyak sepanjang motivasi dari dalam diri tidak muncul. Alhasil, yang terjadi adalah frustrasi bahwa Anda merasa tidak berbakat untuk menulis buku.

Tidak ada bakat dalam menulis buku, yang ada adalah kemauan kuat. Di dalam diri Anda dan setiap orang ada buku. There is a book inside you. Selama orang mengalami sesuatu yang luar biasa di dalam hidupnya, memiliki ilmu dan pengetahuan, memiliki keterampilan, memiliki pemikiran brilian, pasti ada buku di dalam dirinya. Dan buku itu menunggu untuk dikeluarkan sebelum akhir hayat.

Hari gini belum menulis buku? Tentu pertanyaan yang pantas untuk Anda. Mari tebarkan benih buku, mari memanen masyarakat membaca dan masyarakat menulis. Dirgahayu Indonesia, semoga Anda juga diberikan umur untuk bisa menulis buku.

Catatan Kemerdekaan,

Bambang TrimĀ 

(Don’t miss it! Menulis buku bersama saya dalam Training H24H pada 23-24 Agustus 2008 di Hotel Telaga Sari, Lembang, Bandung. Informasi hubungi Irma di 081320200363)