Matabaca, majalah perbukuan, jendela dunia pustaka.
Entah mengapa masih saja ‘keras kepala’. Terbit tangguh dalam masyarakat tak tahu ataupun tak mau tahu soal dunia penyangga intelektual Indonesia. Tepat Agustus, Matabaca yang ‘keras kepala’ telah berusia 6 tahun dalam jagat perbukuan nasional.
Terbit bersampul biru menjelang merdeka. Matabaca membahas hulu hilir dunia buku; Buku dari A-Z. Di sebuah sudut Dunkin Donats kemarin, saya menghadiahkannya satu eksemplar untuk seorang penggiat buku di bidang marketing. Ia takjub, “Ini yang saya cari! Saya tidak tahu kalau ada majalah seperti ini!” Wah, The Poor Matabaca, yang terlupakan atau yang tidak diketahui bukan saja awam, melainkan para penggiat buku.
Berapa banyak editor di bumi Indonesia ini yang tahu atau mau tahu tentang Matabaca. Berapa banyak marketing buku di sini yang juga perlu baca. Matabaca tak seperti almarhum Berita Buku yang diterbitkan IKAPI beberapa tahun lampau. Matabaca juga tidak seperti buletin IKAPI yang terbit kembang kempis tak tentu waktu. Matabaca terbit setiap bulan dengan topik yang tak kalah keren.
Dalam sebuah silaturahmi penerbitan dengan sebuah penerbit bernama besar, saya tunjukkan Matabaca bersampul biru, “Ada yang sudah membaca ini?” Hampir semua menggeleng tanda tak tahu. Padahal, apa yang ingin dibahas paling tidak 40% ada di dalam Matabaca.
Matabaca memang proyek idealis Gramedia. Kelahirannya dibidani Frans M. Parera, pejuang buku Indonesia yang terkadang berapi-api bicara soal buku untuk tidak menyebutkan terkadang ‘keras kepala’. Seperti juga Matabaca yang ‘keras kepala’, entah untung entah tidak menerbitkannya.
Matabaca tampak ‘keras kepala’, tetapi terlihat berkompromi dengan tren dan budaya massa. Matabaca sempat tampil funky. Isinya pun terkadang lekat dengan popularitas kini dan bukan kumpulan tulisan muram dunia buku ataupun tulisan para intelektual berkacamata tebal yang introvert. Matabaca pro dengan pembacanya, generasi baru masyarakat buku meskipun pemimpinnya tidak lagi muda. Dia Frans M. Parera yang ‘keras kepala’, sudah tua tapi tetap bergaya.
Maka kita sadar terjun ke dunia buku karena tidak sengaja. Maka kita sadar begitu minim pengetahuan tentang perbukuan, baik itu penulisan, penyuntingan, penataletakan, bahkan pemasaran. Kita kerap egois dengan ketidaktahuan. Kita buat dikotomi kasar antara buku pelajaran, buku perguruan tinggi, buku spiritual, dan buku umum populer. Kita anggap menggagas buku itu sulit dan memproduksinya juga sulit, tapi kita gagap tidak mau belajar sehingga dunia buku menjadi arus deras yang mematikan.
Kebanyakan penerbit buku di Indonesia adalah family business. Fase tahun 2000-an adalah fase perpindahan tongkat estafet bisnis dari ayah-ibu kepada anak-anaknya. Apa yang terjadi, anak-anaknya masih hidup pada zaman ayah-ibunya; sementara ayah-ibunya pun sudah rabun jauh soal masa depan perbukuan. Tentu saja mereka tidak membaca Matabaca, bahkan mungkin tidak pernah tahu ada ‘anak kecil’ berusia 6 tahun yang lebih paham soal perbukuan daripada mereka, itu si Matabaca.
Matabaca usia enam tahun, anak kecil yang berkepala batu, mungkin seperti Sutan Sjahrir. Masih mending dibandingkan seperti Mochtar Lubis yang berkepala granit. Keras kepala adalah karakter yang terkadang dibutuhkan untuk bertahan pada zaman ombang-ambing dan iming-iming. Matabaca mungkin kalah menarik dengan Popular, Maxim, atau FHM. Matabaca mungkin kalah tenar dengan Tempo atau GATRA. Matabaca mungkin kalah glamour dengan Dewi atau Femina. Matabaca mungkin kalah canggih dengan T&T atau Gadget. Tapi semua fenomena yang ada di majalah-majalah beken itu terbaca oleh Matabaca karena ia ‘keras kepala’ ingin tahu.
Izinkan saya memproklamasikan Matabaca sebagai bacaan wajib insan perbukuan (masyarakat membaca dan masyarakat menulis). Merdekakan dunia buku kita dari belenggu ketidaktahuan yang sering menjadi kebanggaan: Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga akan dosa-dosa …. (Ebiet G. Ade). Alhasil, kita tidak pernah sadar ada seorang anak kecil usia 6 tahun yang lebih paham tentang dunia–yang telah kita geluti puluhan tahun.
Jangan terpengarah, banyak penerbit bayi yang kini lebih agresif dan atraktif daripada penerbit-penerbit The Legend dengan nama besar yang menggetarkan. Mungkin para penerbit bayi itu adalah pemamah Matabaca dan mereka sama keras kepalanya.
Catatan Kemerdekaan Buku,
Bambang Trim
Praktisi Perbukuan Nasional
www.bambangtrim.com
August 13, 2008