post Category: Good Publishing — admin @ 7:24 am — post

Salam,

Ini soal kepastian terbit naskah …. Di satu sisi kerap penulis buku harap-harap cemas apakah naskahnya ditolak atau diterima. Ada juga penulis yang berspekulasi dengan mengirimkan naskah ke banyak penerbit. Kemudian, ada juga penulis yang mencoba tembus dengan menghubungi langsung pengambil keputusan, seperti chief editor atau bahkan direktur penerbit.

Ada sebuah kemajuan kini soal semangat menulis dan munculnya masyarakat menulis. Naskah buku yang masuk ke penerbit menjadi begitu banyak, di luar kegiatan akuisisi aktif yang dilakukan penerbit. Naskah yang masuk memang begitu beragam, dari mulai puisi, kumpulan cerpen, novel (kadang-kadang setengah jadi), buku how to, buku motivasi, buku spiritual, dan sebagainya. Banyaknya editor yang merangkap-rangkap kerja membuat terkadang penerimaan naskah baru terabaikan untuk disortir awal, lalu dibawa ke dalam rapat redaksi.

Hanya ada satu dua naskah yang kemudian mencuri perhatian beberapa kru penerbitan, dan biasanya ini di tingkat para pengambil keputusan yang sudah berpengalaman dengan naskah dan intuisinya jalan. Lalu, biasanya langsung meminta editor untuk menindaklanjuti dengan penulis.

Celakanya, sering juga terjadi naskah tersebut terselip di antara tumpukan berkas kerja editor, lalu terlupakan. Mirip lagu Iwan Fals menjadi “Yang Terlupakan”, lalu tiba-tiba saya yang ada di pucuk pemimpin penerbit menerima SMS dari salah seorang penulis: “Saya ingin ketegasan apakah naskah saya itu buruk, cukup, atau sangat baik untuk bisa diterima di penerbit Anda?” Lalu, para senior editor pun dipanggil dan ditanya perihal naskah tersebut. Mulailah operasi semut di penerbit untuk mencari naskah tersebut. Akhirnya, naskah ditemukan teronggok di sudut meja berdebu dan mulailah aksi saling menyalahkan atau mencari siapa yang salah di antara para editor ataupun sekretaris redaksi. Hal ini jamak terjadi di penerbit buku umum yang juga membuka kran penerimaan naskah (unsolicited) di penerbitnya.

Saya memahami, meskipun terkadang agak sulit bahwa diperlukan sebuah sistem dengan kenyataan aktivitas penerimaan naskah yang meningkat. Sistem yang saya sempat berlakukan adalah adanya editor akuisisi dan editor asisten untuk memastikan semua penerimaan naskah dapat diproses dalam acara ’sakral’ Rapat Redaksi. Lalu, keputusan Rapat Redaksi harus dibuat dalam berita acara sehingga ada tiga keputusan: 1) menolak naskah; 2) menerima naskah dengan catatan harus diperbaiki atau disempurnakan; 3) menerima naskah tanpa syarat. Sistem yang diberlakukan adalah memberikan jawaban ataupun konfirmasi kepada para penulis/pengarang secara resmi via surat atau telepon dalam tempo selambat-lambatnya 3 hari setelah rapat redaksi. Selanjutnya, penerbit akan mengirimkan kontrak kerja sama. Aturannya, sebelum ada kesepakatan kontrak kerja sama, naskah tidak boleh diproses di editorial karena mungkin saja penulis menolak kompensasi yang ditawarkan oleh penerbit.

Sistem seperti ini harus ada yang mengelola dan mengawalnya, yaitu para senior editor ataupun managing editor. Istilah kerennya tentu maintenance terhadap naskah maupun penulis-penulis prospektif perlu dilakukan. Para editor akuisisi dalam mencari naskah juga mirip agen asuransi yang mencari prospek. Para penulis saya anggap sebagai calon prospek.

Bagaimana dengan kerewelan penulis alias PR (penulis rese’) Di belahan dunia mana pun selalu terdapat penulis rese, apalagi yang sudah pernah menerbitkan buku dan merasa banyak tahu soal penerbitan. Penulis rese kadang-kadang membandingkan penerbit buku seperti penerbit media massa sehingga naskah baru seminggu ada di penerbit sudah ditanya ini itu. Penulis rese juga yang terkadang kurang mau mengakses informasi sehingga sebelum mengirim naskah juga bertanya hal-hal yang kurang begitu penting, seperti mengetik di kertas ukuran apa, berapa spasinya, ukuran font dan jenis fontnya, tebalnya, perlu ilustrasi gak? Padahal, aturan-aturan standar seperti ini mestinya sudah harus diketahui. Bahkan, saya sendiri tidak terlalu peduli dengan tampilan standar naskah karena yang saya lihat adalah ide orisinal ataupun ide menarik dari naskah.

Bagaimana dengan praktik nepotis para editor? Berkali-kali saya mengingatkan objektivitas dalam akuisisi naskah. Saya membolehkan para editor memprospek ayah-ibunya, kakaknya, pamannya, keponakannya, sahabat karibnya, ataupun tetangganya kalau memang secara objektif mereka bisa menulis buku dan layak. Namun, terkadang yang dibawa adalah semangat nepotis subjektif sehingga tidak jarang naskah-naskah yang diprospek memang saling mengait dengan jaringan kekeluargaan ataupun pertemanan dari para editor. Editor mengarbit naskah-naskah tersebut seolah layak. Mengapa? Mengingat dalam akuisisi naskah ini memang ada unsur finansial yang menggiurkan, apalagi dalam sistem flat fee yang bisa cair dalam waktu sebulan dengan jumlah jutaan rupiah. Apa yang terjadi kemudian? Naskah yang berprospek atau penulis prospek justru tidak ditindaklanjuti alih-alih malah dipinggirkan. Kalau ada bibit-bibit editor seperti ini di penerbit, segeralah dibasmi. Bisa-bisa mereka membentuk sindikat pengadaan naskah yang salah seorang menjadi god father-nya.

***

Satu hal yang sering saya lakukan adalah bertemu langsung dengan para penulis. Terkadang saya bisa berjam-jam berdiskusi dengan mereka soal naskah yang mereka buat. Dan waktu-waktu seperti ini memang langka bagi saya, tetapi sangat baik untuk memprospek seorang penulis dan tahu banyak soal penerbitan buku. Saya ingin membuktikan bahwa hubungan yang dibangun antara editor dan penulis semestinya adalah hubungan semi-pribadi. Hal ini menunjukkan bagaimana penerbitan buku juga menjadi jalan menguatkan silaturahmi.

Jangan terlalu percaya dengan training-training menulis buku yang menggembar-gemborkan bagaimana bisa menembus gawang Redaksi dengan mudah, padahal trainernya baru menulis satu dua buku yang tidak begitu laris di pasaran. Menulis buku adalah perjuangan yang memerlukan strategi. Ukuran sukses menulis buku adalah produktivitas atau kontiniuitas berkarya sehingga tidak lantas baru satu-dua-tiga menulis buku langsung dinobatkan sebagai penulis buku sukses, apalagi diterbitkan oleh penerbit kurang bereputasi. Dan Poynter malah menyebutkan bahwa menulis bukanlah pekerjaan, tetapi sebuah bisnis. Bisa dipahami kalau orang yang mau menulis memang benar-benar terjun dalam dunia penulisan secara profesional, tidak sekadar asal menulis dan terbit.

Sekali lagi, penerbit perlu membangun sebuah sistem akuisisi yang baik karena ke depan diperkirakan akan muncul ribuan penulis baru, penulis muda yang enerjik, ataupun penulis yang turun gunung setelah bertahun-tahun bertapa. Akses informasi membuat banyak orang menjadi mudah terpengaruh dan tersulut untuk menulis buku. Kabarnya Ramaditya, seorang blogger tunanetra juga sedang mempersiapkan buku memoarnya. Siapa yang gak tersulut, tunanetra saja bisa menulis buku, masa yang melek kagak bisa? Ah, keterlaluan ente!

Di pihak lain, para penulis hendaknya mulai mencari tahu sistem penerbitan buku atau apa isi perut penerbit buku. Bertanyalah kepada orang yang paham dan memang sehari-hari berkecimpung di dunia buku yang benar. Jangan berspekulasi soal penerbitan buku. Bina hubungan yang baik karena dunia buku Indonesia masih terlalu sempit. Wajah orang-orang perbukuan ya itu-itu saja, apalagi kalau ada even seperti pameran buku–wajah-wajah ini bergentayangan. Editor di satu penerbit besok-besok sudah pindah ke penerbit lain; editor penerbit lain masuk ke penerbit yang ditinggalkan editor sebelumnya. Alhasil, penulis dan editor sama-sama mencari penerbit yang ideal (menurut mereka). Seperti saya, orang bilang kakinya ada di mana-mana karena memang saya memiliki akses ke banyak penerbit, baik sebagai konsultan maupun sebagai trainer.

Saya memprediksi pada 2009 pun akan terjadi ledakan naskah yang lebih dari 2008. Akan muncul penulis-penulis baru yang berprospek dan penulis-penulis senior pun hendak turun gunung. Penerbit akan memburu naskah terbaik yang membuat penulis prospek berada di atas angin. Suhu politik akan memanas, tetapi suhu buku lebih panas lagi sehingga membuat para penulis terpacu adrenalinnya. Kiamat sudah dekat … maka menulis bukulah dan bagi penerbit terbitkanlah sebanyak-banyaknya buku orang Indonesia!

Bambang Trim
praktisi perbukuan nasional
kunjungi: www.bambangtrim.com (BOOKIA — book is amazing)

1 person has left a comment

#1

salam kenal,

senang sekali bisa berkunjung ke situs ini. saya juga berprofesi sebagai editor. saya mengundang bapak untuk berkunjung ke situs saya. terima kasih

reasonable wrote on August 14, 2008 - 2:20 pm
You can leave a response, or trackback from your own site.

Write Your Comment

Comment Guidelines: Basic XHTML is allowed (a href, strong, em, code). All line breaks and paragraphs will be generated automatically.

You should have a name, right? 
Your email address, I promised I won't tell it to anyone. 
If you have a web site or blog, you can type the URL right here. 
This is where you type your comments. 
Remember my information for the next time I visit.