<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>BOOKIA (Book is Amazing)</title>
	<link>http://www.bambangtrim.com</link>
	<description>Connecting Book Lover</description>
	<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 04:50:48 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Rasa Keliru Menulis Buku</title>
		<link>http://www.bambangtrim.com/rasa-keliru-menulis-buku/</link>
		<comments>http://www.bambangtrim.com/rasa-keliru-menulis-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Aug 2008 01:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Good Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bambangtrim.com/rasa-keliru-menulis-buku/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Saya tidak akan menulis buku dengan mengikut tren (selera) masyarakat. Tapi, saya akan menulis sesuai dengan idealisme tentang apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat.&#8221;
Kalimat model kebulatan tekad seperti ini terkadang ditegaskan oleh para penulis, baik pemula maupun sudah bukan pemula lagi. Seolah-olah ada dikotomi antara tren penulisan dan kebutuhan masyarakat. Dan saya merasa ini adalah kalimat disorientasi dari seorang penulis.
Mengapa disorientasi? Ya, seolah-olah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Saya tidak akan menulis buku dengan mengikut tren (selera) masyarakat. Tapi, saya akan menulis sesuai dengan idealisme tentang apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat.&#8221;</p>
<p>Kalimat model kebulatan tekad seperti ini terkadang ditegaskan oleh para penulis, baik pemula maupun sudah bukan pemula lagi. Seolah-olah ada dikotomi antara tren penulisan dan kebutuhan masyarakat. Dan saya merasa ini adalah <strong>kalimat disorientasi</strong> dari seorang penulis.</p>
<p>Mengapa disorientasi? Ya, seolah-olah menulis buku mengikuti tren bukanlah idealisme. Lalu, seolah-olah menulis buku yang dibutuhkan oleh masyarakat bukanlah mengikut tren. Perlu diingat bahwa munculnya sebuah tren terkadang karena dipicu oleh kebutuhan.</p>
<p>Contoh klasik yang sering yang saya kemukakan adalah ketika terjadi penurunan harga laptop atau munculnya laptop-laptop murah. Hal ini memicu pembelian laptop besar-besaran dan kemudian menjadi tren penggunaan laptop, terutama juga dipicu oleh munculnya berbagai fasilitas hot spot di tempat-tempat umum. Dari tren penggunaan laptop ini kemudian muncul kebutuhan masyarakat akan pengetahuan soal memilih dan merawat laptop. Penulis yang jeli akan memanfaatkan tren dan sekaligus kebutuhan ini untuk menulis buku tentang laptop.</p>
<p>Dalam penulisan bukunya kemudian sang penulis bisa menampakkan idealismenya. Apakah ia akan menulis buku laptop yang asal jadi atau dia menulis buku laptop yang benar-benar berdasarkan hasil riset kebutuhan masyarakat pengguna laptop. Tentu hal ini berbeda dengan kutipan tekad di atas.</p>
<p>Menulis buku populer juga membutuhkan idealisme dari penulis. Menulis buku yang serius pun sama-sama membutuhkan idealisme. Bahkan, Bondan Winarno sempat menyindir dikotomi antara buku serius dan buku populer. Menurut dia: &#8220;Menulis buku itu saja sudah saya anggap serius. Bagaimana mungkin ada pula kategori buku serius?&#8221;</p>
<p>Kalau dianggap bahwa penerbit mementingkan market dan alhasil disebut bahwa buku yang <em>marketable</em> itu cenderung buku yang tidak bermuatan idealisme, hal itu sungguh keliru. Jangan campur adukkan pengertian buku populer yang <em>marketable </em>dengan aktivitas penerbitan yang tidak profesional sehingga menggarap buku populer maupun buku tidak bergenre pop secara asal-asalan. Tidak semua penerbit begitu bodohnya mau menerbitkan buku bergenre pop dengan asumsi asal laku.</p>
<p>Benar ada asumsi: &#8220;Buku yang laku, belum tentu buku yang bagus. Buku yang bagus, belum tentu buku yang laku!&#8221; Tapi, dalam asumsi ini terdapat satu lagi: &#8220;Buku yang laku sekaligus buku yang bagus!&#8221; Siapa penulis dan penerbit yang bisa menghasilkannya? Tentu saja mereka yang bermental pejuang sekaligus bermental juara. Tidak peduli buku itu bermuatan fiksi, nonfiksi, ataupun faksi semuanya digarap secara apik dan profesional.</p>
<p>Ada satu hal yang patut dipikirkan seorang penulis buku mengapa ia harus menerbitkan bukunya. Hal yang terpenting itu adalah bukunya dibaca sebanyak mungkin orang. Dengan demikian, buah pikirannya bisa sampai ke sebanyak mungkin orang sehingga dampaknya buku menjadi laris. Bukan soal uang yang dipikirkan, melainkan bagaimana buku tersebut mempengaruhi sebanyak mungkin orang. Dan kita tahu pada zaman serba canggih seperti saat ini tentu diperlukan kiat tersendiri menarik perhatian orang untuk membaca buku kita. Itulah sebabnya dibutuhkan orientasi terhadap marketing. Mustahil sebagai penulis kita bertahan tanpa ada idealisme sedikit pun tentang pengemasan maupun pemasaran buku.</p>
<p>Okelah Anda sebut bisnis itu tidak idealis, yang idealis itu adalah membuat sebuah buku penting penuh filosofi dan pemikiran. Lalu, siapa yang kira-kira mau membaca buku Anda? Anda mungkin berpikir sejenak untuk menjawab dan ketika itu pula, Anda sebenarnya sudah berpikir soal pasar dan promosi. Bagaimana Anda mengatakan pasar dan promosi itu tidak idealis?</p>
<p><em>So what gitu lho?</em> Nggak usah pusing-pusing dah, tulis saja apa yang Anda pikirkan dan pikirkan dulu apa yang hendak Anda tuliskan. Ujung-ujungnya pasti pembaca sasaran: siapa saja dan berapa besar yang ingin Anda tuju!</p>
<p><strong>written by Bambang Trim </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bambangtrim.com/rasa-keliru-menulis-buku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis itu Taktis Bukan Gampang!</title>
		<link>http://www.bambangtrim.com/menulis-itu-taktis-bukan-gampang/</link>
		<comments>http://www.bambangtrim.com/menulis-itu-taktis-bukan-gampang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Aug 2008 00:00:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Good Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bambangtrim.com/menulis-itu-taktis-bukan-gampang/</guid>
		<description><![CDATA[Tidak salah memang apabila adalah pendapat bahwa menulis itu gampang, bahkan menulis buku sekalipun. Terkadang dengan berbagai metode, seorang penulis yang kadang juga baru menulis satu-dua judul buku dan itu pun bukan menjadi buku yang laris atau best seller, berani membuat training menulis buku dan mengatakan bahwa menulis itu gampang&#8211;self-publishing itu juga mudah.
Saya walaupun masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak salah memang apabila adalah pendapat bahwa menulis itu gampang, bahkan menulis buku sekalipun. Terkadang dengan berbagai metode, seorang penulis yang kadang juga baru menulis satu-dua judul buku dan itu pun bukan menjadi buku yang laris atau best seller, berani membuat training menulis buku dan mengatakan bahwa menulis itu gampang&#8211;self-publishing itu juga mudah.</p>
<p>Saya walaupun masih terbilang baru, mulai menulis buku sejak 1994 berupa buku pelajaran pesanan dari seorang makelar. Lalu, di penerbit tempat saya bekerja, saya pun mulai menulis buku anak Islami. Akhirnya, sebuah proses panjang saya lalui untuk bisa menulis buku yang bagus dan tentunya diminati banyak orang. Alhamdulillah, kini saya telah menulis lebih dari 70 judul buku. Saya tidak bisa menyebutkan angka spesifik karena dokumentasi yang boleh dibilang tidak rapi. Beberapa portofolio tulisan saya dalam bentuk artikel maupun buku ada yang hilang dan kadang-kadang perlu diingat-ingat juga.</p>
<p>Nah, satu yang saya ingat ketika tejadi euforia reformasi, saya sempat menyusun buku yang didokumentasikan dari berbagai liputan media massa. Saya belajar banyak tentang hal ini dari Idi Subandy Ibrahim&#8211;spesialis menulis buku atau menyunting buku dengan cara republishing article. Buku yang saya buat berjudul &#8220;Para Tokoh di Balik Reformasi: Lokomotif itu Bernama Amien Rais&#8221; dan &#8220;Para Tokoh di Balik Reformasi: Merintis Jalan Kritis&#8221;. Ketika menulis buku ini, saya membaca ratusan artikel dan liputan media, berbagai buku politik dan biografi&#8211;sebuah kerja panjang yang melelahkan untuk buku hanya seukuran saku. Buku ini lumayan laku.</p>
<p>Sewaktu kali pertama mendirikan MQ Publishing, saya langsung ngebut dengan gagasan optimalisasi brand image Aa Gym. Jadilah kemudian buku <em>Aa Gym Apa Adanya: Sebuah Qolbugrafi</em> ( judul Aa Gym Apa Adanya langsung dari Aa dan Sebuah Qolbugrafi saya yang memberikannya). Mulai saya merancang sebuah biografi praktis yang diilhami dari biografi Muhammad Ali. Jadilah kemudian buku tersebut menyodok pasar dengan angka penjualan lebih dari 120 ribu eksemplar. Buku ini pun diikuti dengan dua buku lain, yaitu <em>Jagalah Hati: Step by Step Manajemen Qolbu</em> dan <em>Welcome to DT</em>. Saya memang tidak pernah mengatakan bahwa buku <em>Jagalah Hati </em>hampir murni digagas dan ditulis seratus persen oleh saya ditambah gagasan Aa Gym yang sempat tersebar di beberapa buku. Saya coba merancang MQ sebagai sebuah sistem yang bisa dikomunikasi secara langkah demi langkah. Alhasil, buku tersebut pun laku keras, terutama karena digunakan sebagai buku wajib pelatihan MQ.</p>
<p>Selama tiga tahun saya mencoba menulis dari 1991-1993, selama itu pula tulisan saya ditolak oleh penerbit. Saya merasakan perjuangan luar biasa untuk bisa menarik perhatian penerbit, belajar dari para senior, membaca berbagai literatur menulis, hingga mengikuti pelatihan jurnalistik. Dalam pelatihan jurnalistik, saya tahu begitu banyak jenis tulisan. Teori yang dijejalkan juga banyak sehingga sebenarnya banyak orang yang bingung ketika mulai menulis. Mereka mau menulis apa? Artikel, feature, berita, esai, atau resensi?</p>
<p>Jikalau hendak melatih kemampuan menulis, ingatlah hal-hal taktis. Menulis tidak gampang karena kalau gampang, banyak sebenarnya orang bisa menulis dalam sekali tepuk. Menulis perlu berpikir taktis. Apa yang saya lalui selama tiga tahun, tidak perlu Anda ikuti pula. Anda tinggal menyerap pengalaman menulis saya atau orang lain sehingga terdapat short-cut (jalan pintas) untuk Anda lalui. Apa yang penting adalah berpikir taktis bagaimana keterampilan menulis bisa dikuasai.</p>
<p>Karena itu, saya pun membuat kerangka taktis menulis yaitu prewriting-writing-postwriting. Dalam menulis buku saya buat kerangka taktis H24H sehingga Anda bisa cepat menguasai dan paham; bukan gampang menulis dan selamanya justru tidak bisa menulis.</p>
<p>Tahap awal yang saya pentingkan adalah taktis dalam menstimulus gagasan karena gagasanlah yang menjadi titik tolak kita menulis. Lalu, taktis dalam memetakan gagasan dengan mengambil contoh metode <em>mind mapping</em> dari Tony Buzan. Saya juga mengadopsi teknik <em>hypnotic writing</em>-nya Joe Vitalae sehingga jadilah Anda menstimulus gagasan dengan menggunakan 5 panca indera + intuisi sebagai indera keenam.</p>
<p>Pelatihan menulis hanya sebuah wahana atau kendaraan. Kendaraan tanpa BBM tidak akan melaju. Karena itu, Anda perlu motivasi dari dalam diri dan orang lain sehingga bisa menjadi BBM. Tujuan dan niat menjadi oli yang melancarkan pergerakan mesin gagasan. Akan semakin jelas ketika kendaraan Anda dilengkapi dengan GPS (<em>global positioning system</em>) untuk menunjukkan arah. GPS ini saya berikan dalam bentuk akses dan peta penerbitan buku di Indonesia. Dengan pengalaman mendirikan beberapa penerbit, pernah mendirikan self-publishing, dan juga mengkonsultani beberapa penerbit, saya insya Allah bisa berbagi kepada Anda tentang isi perut penerbit tanpa mengira-ngira.</p>
<p>Terakhir, kalau kita berkendaraan dan ingin sukses, kuasai rambu-rambu dan belajarlah pada ahlinya. Adalah penting mendapatkan informasi yang benar soal seluk-beluk penulisan buku karena Anda berharap buku Anda berada pada jalan yang benar bukan sekadar terbit. Rambu-rambu yang penting Anda ketahui adalah sistem akuisisi naskah di penerbit, soal hak cipta atau hak kekayaan intelektual, dan juga perjanjian penerbitan. Jangan sampai Anda mendapat informasi keliru mengenai penerbit, editor, ataupun agen naskah (<em>literary agent</em>) karena dunia buku memang seolah tersamar.</p>
<p>Jadi, jangan terlalu senang dengan yang gampang. Carilah yang taktis dan praktis agar Anda bisa menemukan jalan pintas untuk menulis. Semoga sukses!</p>
<p><strong>written by Bambang Trim, August 2008 </strong></p>
<p>Bambang Trim&#8217;s Inspiring Training:</p>
<ul>
<li>Menulis Buku untuk Orang Awam</li>
<li>Editor Profesional</li>
<li>H24H: Professional Book Writing (23-24 Agustus 2008)</li>
<li>Professional Text Book Writing</li>
<li>Powerfull Book Publishing</li>
<li>Editor Prosional Tingkat Lanjut</li>
<li>dsb.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bambangtrim.com/menulis-itu-taktis-bukan-gampang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Proklamasi Matabaca</title>
		<link>http://www.bambangtrim.com/proklamasi-matabaca/</link>
		<comments>http://www.bambangtrim.com/proklamasi-matabaca/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 00:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Serbaneka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bambangtrim.com/proklamasi-matabaca/</guid>
		<description><![CDATA[Matabaca, majalah perbukuan, jendela dunia pustaka.
Entah mengapa masih saja &#8216;keras kepala&#8217;. Terbit tangguh dalam masyarakat tak tahu ataupun tak mau tahu soal dunia penyangga intelektual Indonesia. Tepat Agustus, Matabaca yang &#8216;keras kepala&#8217; telah berusia 6 tahun dalam jagat perbukuan nasional.
Terbit bersampul biru menjelang merdeka. Matabaca membahas hulu hilir dunia buku; Buku dari A-Z. Di sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Matabaca, majalah perbukuan, jendela dunia pustaka.</p>
<p>Entah mengapa masih saja &#8216;keras kepala&#8217;. Terbit tangguh dalam masyarakat tak tahu ataupun tak mau tahu soal dunia penyangga intelektual Indonesia. Tepat Agustus, Matabaca yang &#8216;keras kepala&#8217; telah berusia 6 tahun dalam jagat perbukuan nasional.</p>
<p>Terbit bersampul biru menjelang merdeka. Matabaca membahas hulu hilir dunia buku; Buku dari A-Z. Di sebuah sudut Dunkin Donats kemarin, saya menghadiahkannya satu eksemplar untuk seorang penggiat buku di bidang marketing. Ia takjub, &#8220;Ini yang saya cari! Saya tidak tahu kalau ada majalah seperti ini!&#8221; Wah, The Poor Matabaca, yang terlupakan atau yang tidak diketahui bukan saja awam, melainkan para penggiat buku.</p>
<p>Berapa banyak editor di bumi Indonesia ini yang tahu atau mau tahu tentang Matabaca. Berapa banyak marketing buku di sini yang juga perlu baca. Matabaca tak seperti almarhum<em> Berita Buku </em>yang diterbitkan IKAPI beberapa tahun lampau. Matabaca juga tidak seperti buletin IKAPI yang terbit kembang kempis tak tentu waktu. Matabaca terbit setiap bulan dengan topik yang tak kalah keren.</p>
<p>Dalam sebuah silaturahmi penerbitan dengan sebuah penerbit bernama besar, saya tunjukkan Matabaca bersampul biru, &#8220;Ada yang sudah membaca ini?&#8221; Hampir semua menggeleng tanda tak tahu. Padahal, apa yang ingin dibahas paling tidak 40% ada di dalam Matabaca.</p>
<p>Matabaca memang proyek idealis Gramedia. Kelahirannya dibidani Frans M. Parera, pejuang buku Indonesia yang terkadang berapi-api bicara soal buku untuk tidak menyebutkan terkadang &#8216;keras kepala&#8217;. Seperti juga Matabaca yang &#8216;keras kepala&#8217;, entah untung entah tidak menerbitkannya.</p>
<p>Matabaca tampak &#8216;keras kepala&#8217;, tetapi terlihat berkompromi dengan tren dan budaya massa. Matabaca sempat tampil funky. Isinya pun terkadang lekat dengan popularitas kini dan bukan kumpulan tulisan muram dunia buku ataupun tulisan para intelektual berkacamata tebal yang introvert. Matabaca pro dengan pembacanya, generasi baru masyarakat buku meskipun pemimpinnya tidak lagi muda. Dia Frans M. Parera yang &#8216;keras kepala&#8217;, sudah tua tapi tetap bergaya.</p>
<p>Maka kita sadar terjun ke dunia buku karena tidak sengaja. Maka kita sadar begitu minim pengetahuan tentang perbukuan, baik itu penulisan, penyuntingan, penataletakan, bahkan pemasaran. Kita kerap egois dengan ketidaktahuan. Kita buat dikotomi kasar antara buku pelajaran, buku perguruan tinggi, buku spiritual, dan buku umum populer. Kita anggap menggagas buku itu sulit dan memproduksinya juga sulit, tapi kita gagap tidak mau belajar sehingga dunia buku menjadi arus deras yang mematikan.</p>
<p>Kebanyakan penerbit buku di Indonesia adalah<em> family business</em>. Fase tahun 2000-an adalah fase perpindahan tongkat estafet bisnis dari ayah-ibu kepada anak-anaknya. Apa yang terjadi, anak-anaknya masih hidup pada zaman ayah-ibunya; sementara ayah-ibunya pun sudah rabun jauh soal masa depan perbukuan. Tentu saja mereka tidak membaca Matabaca, bahkan mungkin tidak pernah tahu ada &#8216;anak kecil&#8217; berusia 6 tahun yang lebih paham soal perbukuan daripada mereka, itu si Matabaca.</p>
<p>Matabaca usia enam tahun, anak kecil yang berkepala batu, mungkin seperti Sutan Sjahrir. Masih mending dibandingkan seperti Mochtar Lubis yang berkepala granit. Keras kepala adalah karakter yang terkadang dibutuhkan untuk bertahan pada zaman ombang-ambing dan iming-iming. Matabaca mungkin kalah menarik dengan Popular, Maxim, atau FHM. Matabaca mungkin kalah tenar dengan Tempo atau GATRA. Matabaca mungkin kalah glamour dengan Dewi atau Femina. Matabaca mungkin kalah canggih dengan T&amp;T atau Gadget. Tapi semua fenomena yang ada di majalah-majalah beken itu terbaca oleh Matabaca karena ia &#8216;keras kepala&#8217; ingin tahu.</p>
<p>Izinkan saya memproklamasikan Matabaca sebagai bacaan wajib insan perbukuan (masyarakat membaca dan masyarakat menulis). Merdekakan dunia buku kita dari belenggu ketidaktahuan yang sering menjadi kebanggaan: <em>Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga akan dosa-dosa &#8230;. </em>(Ebiet G. Ade). Alhasil, kita tidak pernah sadar ada seorang anak kecil usia 6 tahun yang lebih paham tentang dunia&#8211;yang telah kita geluti puluhan tahun.</p>
<p>Jangan terpengarah, banyak penerbit bayi yang kini lebih agresif dan atraktif daripada penerbit-penerbit The Legend dengan nama besar yang menggetarkan. Mungkin para penerbit bayi itu adalah pemamah Matabaca dan mereka sama keras kepalanya.</p>
<p>Catatan Kemerdekaan Buku,</p>
<p><strong>Bambang Trim<br />
</strong><em>Praktisi Perbukuan Nasional</em><strong><br />
</strong><br />
www.bambangtrim.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bambangtrim.com/proklamasi-matabaca/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Gini, Belum Nulis Buku?</title>
		<link>http://www.bambangtrim.com/hari-gini-belum-nulis-buku/</link>
		<comments>http://www.bambangtrim.com/hari-gini-belum-nulis-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 00:05:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Good Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bambangtrim.com/hari-gini-belum-nulis-buku/</guid>
		<description><![CDATA[Hari Gini Belum Nulis Buku?
Ah, yang bener &#8230;.
Seorang mantan direktur BUMN dengan wajah serius mengatakan bahwa ia ingin menulis buku. Seorang ustadz dengan wajah berbinar menyebutkan ia ingin menulis buku. Seorang dosen dengan penuh harap menyatakan ia harus menulis buku. Seorang ibu rumah tangga dengan bersemangat mengaku akan menulis buku. Seorang remaja dengan ceria berkata, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hari Gini Belum Nulis Buku?<br />
</strong>Ah, yang bener &#8230;.</p>
<p>Seorang mantan direktur BUMN dengan wajah serius mengatakan bahwa ia ingin menulis buku. Seorang ustadz dengan wajah berbinar menyebutkan ia ingin menulis buku. Seorang dosen dengan penuh harap menyatakan ia harus menulis buku. Seorang ibu rumah tangga dengan bersemangat mengaku akan menulis buku. Seorang remaja dengan ceria berkata, &#8220;Aku harus menulis buku!&#8221; Bagaimana dengan Anda? Tunggu apa lagi?<br />
<strong><br />
</strong>Menulis buku memang sebuah proses. Buku tidak terjadi begitu saja. Proses itu dimulai dari niat dan tekad, lalu stimulasi ide. Stimulasi diikuti dengan perencanaan, penulisan, dan penyuntingan. Di penerbit buku sendiri, buku pun mengalami proses panjang dan rumit (baca  <em>Matabaca</em>edisi Agustus 2008 dengan tajuk A-Z Penerbitan Buku).<br />
<strong><br />
</strong>Karena itu, wajar jika seorang penulis buku harus berbangga dengan hasil karyanya. Tidak gampang menghasilkan sebuah buku, apalagi kemudian buku itu diburu pembaca.<br />
<strong><br />
</strong>Masalahnya niat dan tekad kerapkali terpendam atau lewat begitu saja waktu demi waktu. Anda ternyata memerlukan stimulus atau motivasi dari luar. Namun, seberapa kuat pun motivasi dari luar, ia tidak akan berpengaruh banyak sepanjang motivasi dari dalam diri tidak muncul. Alhasil, yang terjadi adalah frustrasi bahwa Anda merasa tidak berbakat untuk menulis buku.<br />
<strong><br />
</strong>Tidak ada bakat dalam menulis buku, yang ada adalah kemauan kuat. Di dalam diri Anda dan setiap orang ada buku. <em>There is a book inside you. </em>Selama orang mengalami sesuatu yang luar biasa di dalam hidupnya, memiliki ilmu dan pengetahuan, memiliki keterampilan, memiliki pemikiran brilian, pasti ada buku di dalam dirinya. Dan buku itu menunggu untuk dikeluarkan sebelum akhir hayat.<br />
<strong><br />
</strong>Hari gini belum menulis buku? Tentu pertanyaan yang pantas untuk Anda. Mari tebarkan benih buku, mari memanen masyarakat membaca dan masyarakat menulis. Dirgahayu Indonesia, semoga Anda juga diberikan umur untuk bisa menulis buku.</p>
<p>Catatan Kemerdekaan,</p>
<p><strong>Bambang Trim </strong></p>
<p>(Don&#8217;t miss it! Menulis buku bersama saya dalam Training H24H pada 23-24 Agustus 2008 di Hotel Telaga Sari, Lembang, Bandung. Informasi hubungi Irma di 081320200363)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bambangtrim.com/hari-gini-belum-nulis-buku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Seandainya Aku Menulis Buku</title>
		<link>http://www.bambangtrim.com/seandainya-aku-menulis-buku/</link>
		<comments>http://www.bambangtrim.com/seandainya-aku-menulis-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 01:34:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Good Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bambangtrim.com/seandainya-aku-menulis-buku/</guid>
		<description><![CDATA[Seandainya aku menulis buku atau kamu menulis buku &#8230;.
Dunia pasti tampak berbeda. Bangun tidurmu penuh kemantapan. Pikiran segarmu penuh optimisme. Darah buku akan mengalir ke jantung dan dipompa ke seluruh urat nadimu.
Engkau menjadi manusia baru, pencetus ide dan seorang yang berani menuliskannya. Suatu saat kau pasti membedahnya di sebuah toko buku mentereng. Lalu, orang-orang berkerumun untuk sekadar tahu, ingin sekali tahu, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seandainya aku menulis buku atau kamu menulis buku &#8230;.</p>
<p>Dunia pasti tampak berbeda. Bangun tidurmu penuh kemantapan. Pikiran segarmu penuh optimisme. Darah buku akan mengalir ke jantung dan dipompa ke seluruh urat nadimu.</p>
<p>Engkau menjadi manusia baru, pencetus ide dan seorang yang berani menuliskannya. Suatu saat kau pasti membedahnya di sebuah toko buku mentereng. Lalu, orang-orang berkerumun untuk sekadar tahu, ingin sekali tahu, dan ingin mengujimu dengan beberapa pertanyaan.</p>
<p>Kau tampak bangga dengan karyamu. Kau tampak serius menyimak pertanyaan. Dan kau tampak lebih hidup ketika orang-orang berebut meminta tanda tanganmu.</p>
<p>&#8220;Tolong tuliskan pesan untuk anak saya. Buku ini akan saya hadiahkan untuk anak saya!&#8221;</p>
<p>Respons itu membuat semangatmu naik berkali-kali lipat. Engkau seperti tak mampu menahan. Ide-ide menyesak di kepalamu, lalu kau pun menulis dan menulis lagi.</p>
<p>Seandainya aku atau kamu menulis buku &#8230;.</p>
<p>Dunia seperti penuh gairah, bahkan penuh cinta. Kau bersilaturahmi dengan banyak orang. Inbox di dalam e-mail-mu penuh ucapan selamat, apresiasi, bahkan keluh kesah. Inbox SMS-mu juga penuh dengan orang-orang yang sekadar ingin menyapa. Sampai-sampai kau kadang lupa menjawab mereka, tetapi pembacamu begitu sabar menanti balasanmu.</p>
<p>Seandainya aku dan kamu menulis buku &#8230;.</p>
<p>Kita tidak perlu berkampanye di jalan-jalan. Orang-orang telah mengenal engkau dan aku. Orang-orang akan mencocokkan foto kamu dan aku yang ada di sampul buku begitu mereka melihat dirimu dan juga aku. Ah, mereka begitu antusias menyalami kita, lalu mereka pun berkata, &#8220;Terima kasih Pak/Bu, buku Anda begitu menginspirasi saya. Kini saya bisa menatap hidup lebih baik!&#8221; Jabat eratnya menghangatkan hati kita.</p>
<p>Seandainya aku dan kamu belum juga menulis buku &#8230;.</p>
<p>Waktu bergulir cepat, tapi masih ada waktu. Ide-ide perlu dibereskan sebelum ada orang lain yang menuliskan. Ayo, investasikanlah waktumu dan aku juga sedang &#8230;. Aku menulis ini dan kamu menulis itu. ***</p>
<p><strong>oleh Bambang Trim</strong></p>
<p>(Sampai bertemu dalam <strong>Training Menulis Buku H24H</strong> (Hanya 24 Halaman). Dua puluh jam training efektif membongkar ide, kemampuan, dan akses Anda ke dunia buku. Pastikan ide Anda mewujud menjadi buku dan benar-benar diterbitkan dengan segala kemudahan. Tanggal 23-24 Agustus, Hotel Telaga Sari Lembang-Bandung, C/P Irma [081320200363]. Don&#8217;t miss it!)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bambangtrim.com/seandainya-aku-menulis-buku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sindikat Akuisisi Naskah</title>
		<link>http://www.bambangtrim.com/sindikat-akuisisi-naskah/</link>
		<comments>http://www.bambangtrim.com/sindikat-akuisisi-naskah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 01:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Good Publishing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bambangtrim.com/sindikat-akuisisi-naskah/</guid>
		<description><![CDATA[Salam,
Jadi tertarik untuk membahas fenomena akuisisi naskah. Saat ini mulai bertumbuh beberapa kelompok kerja akuisisi naskah, baik dengan cara mereka menulis sendiri ataupun mereka menghimpun karya-karya penulis dari mana pun. Kondisi ini terjadi terutama dipicu oleh beberapa proyek pengadaan buku, seperti proyek DAK maupun Bapusda yang luar biasa dari sisi jumlah judul kebutuhan. Penerbit yang merasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salam,</p>
<p>Jadi tertarik untuk membahas fenomena akuisisi naskah. Saat ini mulai bertumbuh beberapa kelompok kerja akuisisi naskah, baik dengan cara mereka menulis sendiri ataupun mereka menghimpun karya-karya penulis dari mana pun. Kondisi ini terjadi terutama dipicu oleh beberapa proyek pengadaan buku, seperti proyek DAK maupun Bapusda yang luar biasa dari sisi jumlah judul kebutuhan. Penerbit yang merasa membutuhkan jasa mereka umumnya penerbit buku pelajaran, penerbit yang tidak memiliki tim penerbitan, ataupun penerbit-penerbit baru.</p>
<p>Alih-alih sebagai kelompok kerja akuisisi, sekelompok orang ini kemudian saya sinyalir berubah menjadi sindikat akuisisi naskah dengan modus menjadi <em>literary agent</em>. Padahal, pengertian <em>literary agent </em>(agen sastra) adalah mereka yang secara profesional menjadi agen dari para penulis pesohor maupun para penulis pemula. Para agen ini akan mendapatkan jasa dari pekerjaannya melalui pembagian royalti (antara 2-3% dari total royalti) atau 10%-20% dari nilai<em> advance fee</em> atau<em> flat fee</em>. Para agen umumnya mereka yang telah berpengalaman lama di dunia penerbitan buku, misalnya pernah bekerja sebagai editor dan mereka tahu betul seluk beluk pernaskahan.</p>
<p><em>Literary agent</em> bekerja ibarat pencari bakat. Dengan kemampuan profesional dan intuisinya ia bisa melihat prospek pada seorang penulis ataupun naskah yang hendak ditawarkannya. Dengan kemampuan <em>marketing communication</em> yang baik, ia pun mulai menawarkan karya-karya penulis kepada kolega-koleganya di penerbit, seperti chief editor maupun managing editor.  Hampir semua penulis di Eropa atau Amerika, terutama di negara-negara yang sudah maju perbukuannya menggunakan jasa agen ini.</p>
<p>Berikut definisinya dalam wikipedia: <em>A literary agent is an agent who represents writers and their written works to publishers, theatrical producers and film producers and assists in the sale and deal negotiation of the same. Literary agents most often represent novelists, screenwriters and major non-fiction writers. They are paid a fixed percentage (ten to twenty percent; fifteen percent is usual) of the proceeds of sales they negotiate on behalf of their clients. </em></p>
<p>Apa yang terjadi di Indonesia dengan sindikat akuisisi ini berbeda. Mereka kerap memang mengaku-aku sebagai<em> literary agent</em>.  Namun, polanya kerap memotong royalti atau kompensasi dari penerbit kepada penulis hingga 50%. Ambil contoh dalam sistem flat fee seorang penulis seharusnya mendapatkan Rp3 juta untuk naskahnya, tetapi ia hanya menerima Rp1,5 juta. Saya pernah juga berhubungan dengan agen semacam ini saat kali pertama menulis buku pelajaran.</p>
<p>Suatu kisah menunjukkan bahwa seorang<em> literary agent</em> meminta seorang penulis untuk menyelesaikan naskah lengkap dengan desain interior (layout) dan desain eksterior (cover), baru (menurutnya) bisa ditawarkan ke penerbit. Menurut saya pola ini adalah akal-akalan karena <em>literary agent</em> bukanlah <em>publishing service</em>.  <em>Literary agent</em> tok hanya menawarkan atau mempresentasikan naskah kepada penerbit yang sesuai. Akal-akalan seperti ini dapat dipahami jika sang agen menawarkan sebuah naskah yang <em>ready to print</em> lengkap dengan dummy-nya, ia pun akan mendapatkan kompensasi dari hasil kerja desain yang sudah disiapkan oleh penulis. Penulis yang tidak tahu-menahu menganggap bahwa ia memang harus mempersiapkan naskah berikut desainnya agar bisa diterima.</p>
<p>Pola lain yang digunakan oleh sindikat akuisisi ini adalah menawarkan naskah dengan sekian puluh, bahkan ratusan daftar judul. Ibaratnya penerbit disuguhi daftar menu untuk memilih makanan siap saji, tanpa tahu bentuknya. Jika ada kesepakatan judul tertentu, barulah kemudian sindikat bekerja mencari-cari naskah yang dibutuhkan dan menawarkan rupiah tertentu kepada para penulis. Kadang-kadang naskah dari penulis-penulis yang umumnya pemula ini dikarbit sedemikian rupa hingga tampak layak.</p>
<p>Sindikat ini bisa juga bekerja sama dengan para pengambil keputusan di penerbit, seperti chief editor, managing editor, atau editor akuisisi. Paling tidak mereka bisa membagi keuntungan dari naskah-naskah dengan kontrak <em>flat fee</em>. Bayangkan terkadang ada naskah <em>flat fee </em>berharga Rp3 jutaan yang bisa diselesaikan kurang dari seminggu. Lalu, sang penulis sendiri mendapat bagian Rp1 juta dan sisanya dibagi-bagi antaranggota sindikat.</p>
<p>Bagaimana dengan MOU penerbitan? Biasanya sindikat tidak menyerahkan MOU kepada para penulis sehingga hampir pasti penulis tidak tahu-menahu hak dan kewajibannya. MOU diurus sendiri oleh koordinator sindikat dan penerbit pun terkadang tidak ambil pusing. Bahkan, ada juga MOU yang ditandatangani atas nama koordinator sindikat atau tanda tangan penulis asli dipalsukan.</p>
<p>Sindikat ini memang akan terus berkembang mengingat dunia buku Indonesia juga sedang menggeliat. Hanya diperlukan kejelian dari para pengambil kebijakan penerbitan untuk dapat mengenali pola kerja sindikat yang mengatasnamakan beberapa orang penulis. Cara standar adalah tetap memberlakukan adanya formulir penulis/pengarang yang memuat informasi detail tentang penulis/pengarang, bukan agennya.</p>
<p>Seorang <em>literary agent</em> hanya menjadi seorang penghubung. Kontrak antara penerbit dan penulis tetap menghadirkan kedua belah pihak atau ada konfirmasi langsung penerbit kepada penulis dan sebaliknya. <em>Literary agent</em> sejati tidak akan pernah berbohong terhadap hasil negoisasi dirinya dengan penerbit. Dia dianggap berprestasi apabila berhasil meyakinkan penerbit tentang keandalan sebuah naskah. Dahulu <em>Harry Potter</em> ditolak beberapa kali karena memang JK Rowling tidak sanggup membayar <em>literary agent</em> atau beberapa agen menganggap naskahnya tidak layak jual.</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bambangtrim.com/sindikat-akuisisi-naskah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jawaban Penerbit (Naskah) Sebuah Sistem</title>
		<link>http://www.bambangtrim.com/jawaban-penerbit-naskah-sebuah-sistem/</link>
		<comments>http://www.bambangtrim.com/jawaban-penerbit-naskah-sebuah-sistem/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 00:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Good Publishing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bambangtrim.com/jawaban-penerbit-naskah-sebuah-sistem/</guid>
		<description><![CDATA[Salam,
Ini soal kepastian terbit naskah &#8230;. Di satu sisi kerap penulis buku harap-harap cemas apakah naskahnya ditolak atau diterima. Ada juga penulis yang berspekulasi dengan mengirimkan naskah ke banyak penerbit. Kemudian, ada juga penulis yang mencoba tembus dengan menghubungi langsung pengambil keputusan, seperti chief editor atau bahkan direktur penerbit.
Ada sebuah kemajuan kini soal semangat menulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salam,</p>
<p><strong>Ini soal kepastian terbit naskah &#8230;.</strong> Di satu sisi kerap penulis buku harap-harap cemas apakah naskahnya ditolak atau diterima. Ada juga penulis yang berspekulasi dengan mengirimkan naskah ke banyak penerbit. Kemudian, ada juga penulis yang mencoba tembus dengan menghubungi langsung pengambil keputusan, seperti chief editor atau bahkan direktur penerbit.</p>
<p>Ada sebuah kemajuan kini soal semangat menulis dan munculnya masyarakat menulis. Naskah buku yang masuk ke penerbit menjadi begitu banyak, di luar kegiatan akuisisi aktif yang dilakukan penerbit. Naskah yang masuk memang begitu beragam, dari mulai puisi, kumpulan cerpen, novel (kadang-kadang setengah jadi), buku how to, buku motivasi, buku spiritual, dan sebagainya. Banyaknya editor yang merangkap-rangkap kerja membuat terkadang penerimaan naskah baru terabaikan untuk disortir awal, lalu dibawa ke dalam rapat redaksi.</p>
<p>Hanya ada satu dua naskah yang kemudian mencuri perhatian beberapa kru penerbitan, dan biasanya ini di tingkat para pengambil keputusan yang sudah berpengalaman dengan naskah dan intuisinya jalan. Lalu, biasanya langsung meminta editor untuk menindaklanjuti dengan penulis.</p>
<p><strong>Celakanya, sering juga terjadi naskah tersebut terselip di antara tumpukan berkas kerja editor</strong>, lalu terlupakan. Mirip lagu Iwan Fals menjadi &#8220;Yang Terlupakan&#8221;, lalu tiba-tiba saya yang ada di pucuk pemimpin penerbit menerima SMS dari salah seorang penulis: &#8220;Saya ingin ketegasan apakah naskah saya itu buruk, cukup, atau sangat baik untuk bisa diterima di penerbit Anda?&#8221; Lalu, para senior editor pun dipanggil dan ditanya perihal naskah tersebut. Mulailah operasi semut di penerbit untuk mencari naskah tersebut. Akhirnya, naskah ditemukan teronggok di sudut meja berdebu dan mulailah aksi saling menyalahkan atau mencari siapa yang salah di antara para editor ataupun sekretaris redaksi. Hal ini jamak terjadi di penerbit buku umum yang juga membuka kran penerimaan naskah (<em>unsolicited</em>) di penerbitnya.</p>
<p>Saya memahami, meskipun terkadang agak sulit bahwa diperlukan sebuah sistem dengan kenyataan aktivitas penerimaan naskah yang meningkat. Sistem yang saya sempat berlakukan adalah adanya editor akuisisi dan editor asisten untuk memastikan semua penerimaan naskah dapat diproses dalam acara &#8217;sakral&#8217; Rapat Redaksi. Lalu, keputusan Rapat Redaksi harus dibuat dalam berita acara sehingga ada tiga keputusan: 1) menolak naskah; 2) menerima naskah dengan catatan harus diperbaiki atau disempurnakan; 3) menerima naskah tanpa syarat. Sistem yang diberlakukan adalah memberikan jawaban ataupun konfirmasi kepada para penulis/pengarang secara resmi via surat atau telepon dalam tempo selambat-lambatnya 3 hari setelah rapat redaksi. Selanjutnya, penerbit akan mengirimkan kontrak kerja sama. Aturannya, sebelum ada kesepakatan kontrak kerja sama, naskah tidak boleh diproses di editorial karena mungkin saja penulis menolak kompensasi yang ditawarkan oleh penerbit.</p>
<p>Sistem seperti ini harus ada yang mengelola dan mengawalnya, yaitu para senior editor ataupun managing editor. Istilah kerennya tentu <em>maintenance</em> terhadap naskah maupun penulis-penulis prospektif perlu dilakukan. Para editor akuisisi dalam mencari naskah juga mirip agen asuransi yang mencari prospek. Para penulis saya anggap sebagai calon prospek.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan kerewelan penulis alias PR (penulis rese&#8217;) </strong>Di belahan dunia mana pun selalu terdapat penulis rese, apalagi yang sudah pernah menerbitkan buku dan merasa banyak tahu soal penerbitan. Penulis rese kadang-kadang membandingkan penerbit buku seperti penerbit media massa sehingga naskah baru seminggu ada di penerbit sudah ditanya ini itu. Penulis rese juga yang terkadang kurang mau mengakses informasi sehingga sebelum mengirim naskah juga bertanya hal-hal yang kurang begitu penting, seperti mengetik di kertas ukuran apa, berapa spasinya, ukuran font dan jenis fontnya, tebalnya, perlu ilustrasi gak? Padahal, aturan-aturan standar seperti ini mestinya sudah harus diketahui. Bahkan, saya sendiri tidak terlalu peduli dengan tampilan standar naskah karena yang saya lihat adalah ide orisinal ataupun ide menarik dari naskah.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan praktik nepotis para editor? </strong>Berkali-kali saya mengingatkan objektivitas dalam akuisisi naskah. Saya membolehkan para editor memprospek ayah-ibunya, kakaknya, pamannya, keponakannya, sahabat karibnya, ataupun tetangganya kalau memang secara objektif mereka bisa menulis buku dan layak. Namun, terkadang yang dibawa adalah semangat nepotis subjektif sehingga tidak jarang naskah-naskah yang diprospek memang saling mengait dengan jaringan kekeluargaan ataupun pertemanan dari para editor. Editor mengarbit naskah-naskah tersebut seolah layak. Mengapa? Mengingat dalam akuisisi naskah ini memang ada unsur finansial yang menggiurkan, apalagi dalam sistem flat fee yang bisa cair dalam waktu sebulan dengan jumlah jutaan rupiah. Apa yang terjadi kemudian? Naskah yang berprospek atau penulis prospek justru tidak ditindaklanjuti alih-alih malah dipinggirkan. Kalau ada bibit-bibit editor seperti ini di penerbit, segeralah dibasmi. Bisa-bisa mereka membentuk sindikat pengadaan naskah yang salah seorang menjadi <em>god father</em>-nya.</p>
<p>***</p>
<p>Satu hal yang sering saya lakukan adalah bertemu langsung dengan para penulis. Terkadang saya bisa berjam-jam berdiskusi dengan mereka soal naskah yang mereka buat. Dan waktu-waktu seperti ini memang langka bagi saya, tetapi sangat baik untuk memprospek seorang penulis dan tahu banyak soal penerbitan buku. Saya ingin membuktikan bahwa hubungan yang dibangun antara editor dan penulis semestinya adalah hubungan semi-pribadi. Hal ini menunjukkan bagaimana penerbitan buku juga menjadi jalan menguatkan silaturahmi.</p>
<p>Jangan terlalu percaya dengan training-training menulis buku yang menggembar-gemborkan bagaimana bisa menembus gawang Redaksi dengan mudah, padahal trainernya baru menulis satu dua buku yang tidak begitu laris di pasaran. Menulis buku adalah perjuangan yang memerlukan strategi. Ukuran sukses menulis buku adalah produktivitas atau kontiniuitas berkarya sehingga tidak lantas baru satu-dua-tiga menulis buku langsung dinobatkan sebagai penulis buku sukses, apalagi diterbitkan oleh penerbit kurang bereputasi. Dan Poynter malah menyebutkan bahwa menulis bukanlah pekerjaan, tetapi sebuah bisnis. Bisa dipahami kalau orang yang mau menulis memang benar-benar terjun dalam dunia penulisan secara profesional, tidak sekadar asal menulis dan terbit.</p>
<p>Sekali lagi, penerbit perlu membangun sebuah sistem akuisisi yang baik karena ke depan diperkirakan akan muncul ribuan penulis baru, penulis muda yang enerjik, ataupun penulis yang turun gunung setelah bertahun-tahun bertapa. Akses informasi membuat banyak orang menjadi mudah terpengaruh dan tersulut untuk menulis buku. Kabarnya Ramaditya, seorang blogger tunanetra juga sedang mempersiapkan buku memoarnya. Siapa yang gak tersulut, tunanetra saja bisa menulis buku, masa yang melek <em>kagak</em> bisa? Ah, keterlaluan ente!</p>
<p>Di pihak lain, para penulis hendaknya mulai mencari tahu sistem penerbitan buku atau apa isi perut penerbit buku. Bertanyalah kepada orang yang paham dan memang sehari-hari berkecimpung di dunia buku yang benar. Jangan berspekulasi soal penerbitan buku. Bina hubungan yang baik karena dunia buku Indonesia masih terlalu sempit. Wajah orang-orang perbukuan ya itu-itu saja, apalagi kalau ada even seperti pameran buku&#8211;wajah-wajah ini bergentayangan. Editor di satu penerbit besok-besok sudah pindah ke penerbit lain; editor penerbit lain masuk ke penerbit yang ditinggalkan editor sebelumnya. Alhasil, penulis dan editor sama-sama mencari penerbit yang ideal (menurut mereka). Seperti saya, orang bilang kakinya ada di mana-mana karena memang saya memiliki akses ke banyak penerbit, baik sebagai konsultan maupun sebagai trainer.</p>
<p>Saya memprediksi pada 2009 pun akan terjadi ledakan naskah yang lebih dari 2008. Akan muncul penulis-penulis baru yang berprospek dan penulis-penulis senior pun hendak turun gunung. Penerbit akan memburu naskah terbaik yang membuat penulis prospek berada di atas angin. Suhu politik akan memanas, tetapi suhu buku lebih panas lagi sehingga membuat para penulis terpacu adrenalinnya. Kiamat sudah dekat &#8230; maka menulis bukulah dan bagi penerbit terbitkanlah sebanyak-banyaknya buku orang Indonesia!</p>
<p><strong>Bambang Trim</strong><br />
praktisi perbukuan nasional<br />
kunjungi: www.bambangtrim.com (BOOKIA &#8212; book is amazing)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bambangtrim.com/jawaban-penerbit-naskah-sebuah-sistem/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Seberapa Cepat Anda Mengedit?</title>
		<link>http://www.bambangtrim.com/seberapa-cepat-anda-mengedit/</link>
		<comments>http://www.bambangtrim.com/seberapa-cepat-anda-mengedit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 06:31:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Good Editing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bambangtrim.com/seberapa-cepat-anda-mengedit/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah proses copyediting dapat terukur dalam jam dan halaman? Pertanyaan ini kerap terlontar oleh level manajemen dalam sebuah penerbitan. Beberapa orang sempat menyangkal bahwa editor tidak dapat diukur seperti halnya mesin cetak dengan kapasitas halaman per jam. Alasan utama karena editor juga manusia yang bekerja berdasarkan mood. Secara berseloroh saya kerap menyebutkan bahwa editor yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah proses copyediting dapat terukur dalam jam dan halaman? Pertanyaan ini kerap terlontar oleh level manajemen dalam sebuah penerbitan. Beberapa orang sempat menyangkal bahwa editor tidak dapat diukur seperti halnya mesin cetak dengan kapasitas halaman per jam. Alasan utama karena editor juga manusia yang bekerja berdasarkan mood. Secara berseloroh saya kerap menyebutkan bahwa editor yang jatuh cinta dan editor yang sedang putus cinta, hasil editingnya akan sama-sama berpengaruh menjadi payah. Benarkah demikian?</p>
<p>Secara umum mungkin ya. Namun, secara standar dalam keadaan normal (baik fisik maupun emosionalnya) kerja seorang editor dapat terukur dalam waktu dan jumlah halaman. Dalam bukunya The Copyeditor’s Handbook, Amy Einsohn, memaparkan penelitiannya soal hitungan waktu dan jam.</p>
<p>Proses copyediting secara umum dibedakan menjadi tiga, yaitu light copyedit (editing ringan), medium copyedit (editing sedang), dan heavy copyedit (editing berat). Dari sisi kondisi teks dibedakan atas dua jenis, yaitu teks standar dan teks sulit. Teks standar adalah teks dengan format tulisan dua spasi dalam satu halaman atau 250-325 kata per halaman; tidak mengandung visualisasi seperti tabel, gambar, diagram, dsb.; tidak mengandung catatan kaki atau referensi silang; tidak mengandung banyak kutipan yang merujuk ke bibliografi. Adapun teks sulit dikategorikan teks yang mengandung banyak typographical error (salah ketik); mengandung lebih dari 325 kata per halaman; font sulit terbaca (misalnya menggunakan font courier); teks begitu teknis dengan banyak table, gambar, catatan kaki, dan catatan akhir; dilengkapi juga dengan referensi silang; termasuk juga ketidakkonsistenan dan ketidaklengkapan.</p>
<p>Dari hal ini seorang editor atau copyeditor harus bisa mengategorikan naskah lewat upaya baca pertama. Dengan demikian, dia pun bisa membuat estimasi waktu editing sesuai dengan karakteristik naskah. Amy Einshon menyebutkan hitungan sebagai berikut per halaman per jam:<br />
•	Light copyedit (6-9/4-6)<br />
•	Medium copyedit (4-7/2-4)<br />
•	Heavy copyedit (2-3/1-2)</p>
<p>Artinya, untuk sebuah editing ringan pada teks standar dihasilkan 6-9 halaman per jam dan untuk teks sulit dihasilkan 4-6 halaman per jam. Asumsi kita ambil yang terbesar jika seorang editor mengerjakan teks standar dengan editing ringan dalam satu hari kerja yaitu 9 x 7 (jam kerja) =  63 halaman. Untuk teks standar dengan editing sedang, seorang editor bisa menghasilkan 7 x 7 (jam kerja) = 49 halaman. Dengan demikian, dalam masa tiga hari kerja tanpa lembur, seorang editor bisa melakukan editing sedang sebanyak 147 halaman.</p>
<p>Dalam hitungan saya, setiap bulan editor sebenarnya bisa mengerjakan secara efektif dua naskah dengan ketebalan standar 160 halaman ketik A4 (berspasi satu setengah atau ganda). Hal-hal yang menambah waktu kerja editor adalah<br />
•	Verifikasi silang untuk bagian naskah yang memerlukan verifikasi seperti daftar isi dengan awal bab atau subbab;<br />
•	Pencarian kelengkapan visual naskah;<br />
•	Proof reading atau koreksi hasil pruf;<br />
•	Penyiapan bahan-bahan cover, seperti visual cover, blurb, dan biodata penulis;<br />
•	Penyiapan perizinan seperti ISBN dan KDT.</p>
<p>Beban waktu editor makin bertambah manakala mendapatkan naskah kategori berat atau naskah yang memerlukan penanganan editing serius. Hal ini menambah jam kerja editor, terutama untuk mencari tambahan materi naskah, membetulkan typographical error atau grammatical error, mencari visual maupun kelengkapan naskah, menungguh kelengkapan naskah (kata pengantar, prakata, bibliografi, gambar, dsb.). Hal-hal seperti inilah yang mesti dipahami oleh level manajemen penerbitan mengapa editor bekerja sedemikian menyita waktu. Artinya, perlu dievaluasi naskah-naskah yang memang begitu banyak mengandung kelemahan.</p>
<p>Dalam hal ini wajarlah jika para penulis pun perlu diedukasi untuk penyiapan naskah yang baik sehingga tidak memperlama proses editing sebuah naskah. Pengetahuan tentang anatomi buku sangat penting, termasuk pengetahuan tentang cara menyusun naskah dan menggunakan berbagai kutipan maupun rujukan.</p>
<p>Nah, sebuah pekerjaan editing sebenarnya terukur. Namun, keterukuran pekerjaan editing harus dipastikan lewat naskah yang diterima. Seorang editor sangat naïf menyatakan bisa mengedit naskah dalam waktu tertentu, sementara dia sendiri belum pernah melihat naskah itu. Karena itu, hal ini sangat perlu diwanti-wanti, terutama bagi para editor yang mengaku sebagai editor freelance atau copyeditor freelance. Urusan kecepatan (speed) dan akurasi editing merupakan poin tersendiri bagi seorang editor profesional.</p>
<p>Selamat berhitung dengan kecepatan Anda. Pertanyaannya: mungkinkah mengedit dua naskah dalam rentang satu bulan? Atau Anda tetap mengambil pedoman editing satu naskah adalah satu setengah bulan atau dua bulan? Sebenarnya segala sesuatu dapat dihitung secara standar dengan melihat kategori naskah yang ada. Tidak dapat disalahkan kalau sebagian besar naskah dari penulis Indonesia adalah naskah yang membuat miris hati karena memang bangsa kita baru terbangun sebagai bangsa yang mau menulis buku—meskipun tidak terlalu merasa penting tahu bagaimana menulis buku.</p>
<p>Semoga mencerahkan, terima kasih.</p>
<p><strong>Bambang Trim<br />
Praktisi perbukuan nasional</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bambangtrim.com/seberapa-cepat-anda-mengedit/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penawaran Training Gratis!</title>
		<link>http://www.bambangtrim.com/penawaran-training-gratis/</link>
		<comments>http://www.bambangtrim.com/penawaran-training-gratis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 00:43:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Event &amp; News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bambangtrim.com/penawaran-training-gratis/</guid>
		<description><![CDATA[Salam,
Informasi dari Grup Salamadani, penerbit pendatang baru dengan semangat memajukan dunia buku Indonesia. Grup Salamadani membuka kesempatan bagi para peminat dunia buku untuk mengikuti SMART EDITOR TRAINING dan TES KEMAMPUAN STANDAR EDITING BUKU senilai Rp2.500.000 secara GRATIS.
Peserta dibatasi dengan sistem seleksi hanya untuk 25 orang. Untuk itu, Salamadani hanya mencari kader-kader terbaik di dunia penerbitan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salam,</p>
<p>Informasi dari Grup Salamadani, penerbit pendatang baru dengan semangat memajukan dunia buku Indonesia. Grup Salamadani membuka kesempatan bagi para peminat dunia buku untuk mengikuti <strong>SMART EDITOR TRAINING dan TES KEMAMPUAN STANDAR EDITING BUKU</strong> senilai <strong>Rp2.500.000</strong> secara GRATIS.</p>
<p>Peserta dibatasi dengan sistem seleksi hanya untuk 25 orang. Untuk itu, Salamadani hanya mencari kader-kader terbaik di dunia penerbitan yang memiliki motivasi tinggi, kreativitas berkelas, dan bervisi penuh isi.</p>
<p><strong>Persyaratan:</strong></p>
<ul>
<li> Pria/Wanita usia maksimal 30 tahun;</li>
<li> Berpendidikan minimal D3 dari semua bidang;</li>
<li> Mahir menggunakan komputer program MS Office dan lebih disukai yang paham program dekstop publishing (DTP);</li>
<li> Berminat dan mencintai dunia penerbitan buku;</li>
<li> Mahir Menulis yang ditunjukkan dengan portofolio karya yang sudah dipublikasikan (sudah terbit);</li>
<li> Mengajukan tulisan bertajuk “Prospek Dunia Buku Indonesia dan Strategi Melejitkannya”;</li>
<li> Bersedia direkrut menjadi tim editorial Salamadani jika memenuhi syarat dan kelulusan tes;</li>
<li> Sedang tidak terikat tetap dalam satu instansi/lembaga penerbitan.</li>
</ul>
<p>Para peserta yang lolos seleksi mendapatkan kesempatan memperoleh training gratis editologi yang digelar di sebuah hotel di Jakarta (akan diberitahukan kemudian) serta tes kemampuan dasar editing selama satu hari. Peserta yang mendapat penghargaan sebagai trainee terbaik dan lolos tes dengan nilai terbaik berpeluang menempati posisi:</p>
<ul>
<li> Senior Editor imprint Hayati Qualita, Maximalis, Madanisa, Musafir (Grup Salamadani)</li>
<li> Staf Copy Editor</li>
<li> Staf Associate Editor (Acquisition Division)</li>
</ul>
<p>untuk berkantor dan berkarya di Jakarta, Bandung, dan Solo. Fasilitas: gaji, bonus prestasi, kesempatan berpesiar ke Kuala Lumpur Book Fair, Cairo Book Fair, dan sebagainya bagi editor berprestasi, serta kesempatan meningkatkan skill dan knowledge di bidang publishing science dengan bimbingan para praktisi berpengalaman.</p>
<p><strong>Para Trainer yang akan membagi ilmunya:</strong></p>
<ul>
<li> Bambang Trim (Vice President Publishing Salamadani)</li>
<li> Ali Muakhir (Expert Advisor for Chilpress)</li>
<li> Taufik Sapto Rohadi (Managing Editor Momentum &amp; Semesta)</li>
<li> Kusye Kustira (Expert Advisor for Book Design)</li>
</ul>
<p><strong>Fasilitas Trainee:</strong><br />
&gt; Training digelar di Hotel Berbintang dengan fasilitas makan siang dan rehat kopi; modul ekslusif; dan sertifikat</p>
<p><strong>Materi:</strong></p>
<ul>
<li> Dasar Penerbitan Buku</li>
<li> Dasar Editologi</li>
<li> Akuisisi Naskah</li>
<li> Book Making</li>
</ul>
<p>CV + Surat Pengantar + Surat Pernyataan (Bersedia Direkrut dan Tidak Terikat dalam Satu Lembaga Penerbitan) + Karya Tulis dikirimkan via e-mail ke:</p>
<p><strong>bambangtrim@ yahoo.com</strong> (subject: <strong>Editor Trainee</strong>)</p>
<p>Catatan: Calon yang belum memenuhi syarat mohon tidak melamar.</p>
<p><em>Don’t miss it!</em> Terbuka untuk kader seluruh Indonesia. Akomodasi untuk kader dari luar Jakarta tidak ditanggung oleh EO.</p>
<p>Expire: <strong>28 Juli 2008</strong>; Pelaksanaan <strong>5 Agustus 2008</strong>, pukul 9.00-17.00</p>
<p>(Nantikan Training Gratis Bidang <strong>Book Making</strong> plus rekrutmen tenaga book designer untuk penempatan di Jakarta, Bandung, dan Solo bersama para praktisi dunia penerbitan buku dan pracetak.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bambangtrim.com/penawaran-training-gratis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Writing is a business, not a job</title>
		<link>http://www.bambangtrim.com/writing-is-a-business-not-a-job/</link>
		<comments>http://www.bambangtrim.com/writing-is-a-business-not-a-job/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 07:50:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Good Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bambangtrim.com/writing-is-a-business-not-a-job/</guid>
		<description><![CDATA[When you write what you love and love what you write, working is something
you look forward to.
When your avocation and vocation are the same, your research is fun.
When your passion center becomes your profit center, you are making a
living doing what you want to do.
As a maven, you study, research, and explain to your audience [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>When you write what you love and love what you write, working is something<br />
you look forward to.<br />
When your avocation and vocation are the same, your research is fun.<br />
When your passion center becomes your profit center, you are making a<br />
living doing what you want to do.</p>
<p>As a maven, you study, research, and explain to your audience using<br />
well-chosen words. You write what you know. You become known as more than<br />
an industry leader, you are an evangelist for your subject.</p>
<p>Through research, you become an expert. Through writing, you become an<br />
author-ity. You are a &#8220;participant&#8221; in your subject area; people come to<br />
you for answers.</p>
<p>Have you ever noticed that writers do not retire?<br />
They must love what they do.<br />
We are fortunate to be in this business.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bambangtrim.com/writing-is-a-business-not-a-job/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
