Nama Inu Kencana tidak dapat dilepaskan dari IPDN. Begitu kasus kekerasan di IPDN yang menyebabkan tewasnya beberapa praja meledak menjadi isu nasional, sosok Inu Kencana pun menjadi kontroversial. Inu Kencana adalah salah seorang dosen IPDN yang kali pertama membeberkan kebobrokan lembaga IPDN, lengkap dengan bukti-bukti berupa foto dan video.
Tidak pelak sosok kontroversi ini menjadi incaran para penerbit untuk mengungkap hal-hal yang masih misteri di seputar IPDN. Adalah Progresio (Syamiil Group) yang kali pertama beruntung mendapatkan naskah dari Inu dan bukunya pun langsung melambung menjadi buku kontroversial dengan judul IPDN Undercover.
Sebelum itu, Indonesia juga sempat diramaikan dengan buku kontroversial karya mantan presiden B.J. Habibie. Buku berjudul Detik-Detik yang Menentukan itu mengungkap saat-saat dramatis kejatuhan Soeharto dan kontroversi dimulai ketika Habibie menyinggung isu kudeta yang akan dilakukan Pangkostrad, Letjen TNI Prabowo, kala itu. Karuan saja Prabowo pun meradang dan talkshow-talkshow di televisi maupun radio menjadi ramai. Seperti tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, para penerbit lain pun seperti di Jogja turut pula meramaikan dengan buku-buku sejenis, di antaranya Perang Para Jenderal yang diterbitkan oleh Galang Press.
Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, ada juga buku kontroversial di bidang kesehatan. Namun, umur buku ini tidak panjang karena langsung ditarik dari peredaran. Buku kontroversial itu berjudul “Adik Baru” yang berisikan pendidikan seks untuk anak-anak. Namun, gambar-gambar berwarna dalam buku ini membuat jengah banyak orang. Buku itu meskipun ditarik, tetapi diburu banyak orang.
Dalam bidang spiritual, kontroversi juga menjadi hal menarik untuk dikemas seperti halnya yang masih aktual adalah kasus buku “The Da Vinci Code” yang memuat kontroversi gereja Katolik di Vatikan. Buku ini mendapat serangan dari buku-buku lainnya. Namun, tidak dipungkiri buku yang diramu dengan fiksi ini menjadi laris manis, termasuk di Indonesia. Buku Salman Rusdhie, “Satanic Verses”, juga menjadi buku kontroversial karena menghina junjungan umat Islam, Nabi Muhammad saw. Kontroversi semakin ramai ketika Ayatullah Khomeini menjatuhkan hukuman mati kepada penulis berkebangsaan Inggris keturunan India itu.
Kemasan kontroversi mensyaratkan seorang development editor harus memasang mata dan telinga baik-baik untuk bisa mendapatkan gagasan-gagasan kontroversi. Namun, seperti juga kedahsyatannya, risiko buku kontroversi juga teramat berat karena harus menghadapi tudingan masyarakat yang kontra ataupun bersiap menghadapi pengadilan somasi dari orang-orang yang merasa terhina. Kasus pertama tadi, IPDN Undercover, juga memancing somasi dari para praja IPDN yang tidak senang dengan tudingan Inu Kencana. Bahkan, aksi pembakaran buku juga kerap mewarnai penerbitan buku-buku kontroversi.
Buku-buku kontroversi yang agak soft ataupun tidak terlalu berisiko bisa muncul dari topik-topik sains. Buku karya Charles Darwin, “The Origin of the Species” masih menyisakan kontroversi hingga kini karena Darwin berpendapat dengan teori evolusinya bahwa manusia modern saat ini berasal dari spesies kera. Yang terbaru adalah kontroversi buku air karya Masaru Emoto (The True Power of Water, The Hidden Message of Water, The Secret of Water) yang mengungkap penelitiannya tentang respons air terhadap kata-kata dan tindakan. Emoto menyajikan foto-foto kristal air yang indah dan yang tidak. Hasil penelitiannya ini mengundang kontroversi para ilmuwan dan menuding Emoto melakukan pseudoscience alias kebohongan sains. Walaupun begitu, tidak pelak buku Emoto menjadi best seller internasional dan mendapat pujian di mana-mana.
Contoh lain yang soft adalah kontroversi di bidang pekerjaan seperti buku “Cashflow Quadrant”-nya Robert T. Kiyosaki yang mengompori para karyawan untuk pindah kuadran menjadi pengusaha atau investor. Robert Kiyosaki kemudian menjadi inspirasi para penggiat MLM dan MLM pun meledak di Indonesia.
Sekali waktu seorang development editor memang bisa menggagas sesuatu yang kontroversial, apakah itu berkaitan dengan topik tertentu (spiritual, politik, ekonomi) ataupun tokoh dan lembaga tertentu yang memang kontroversial. Di Indonesia saat ini Anda mungkin sudah bisa mengira-ngira siapa saja sosok atau lembaga kontroversial, ada Gus Dur, Prabowo, Ulil Abshar dan JIL, Tommy Winata, dan Sutiyoso (Gubernur DKI). Dan Anda pasti ingat satu buku kontroversi yang membuka tabir kehidupan malam Jakarta berjudul Jakarta Undercover. Siapa sosok kontroversi di balik penulisan buku tersebut?
Ingatlah setiap masa pasti melahirkan fenomena, peristiwa, sosok, ataupun lembaga kontroversial. Apa yang kontroversial selalu menarik publik untuk mengetahuinya lebih banyak dan lebih dalam. Di Amerika, kontroversial sudah menjadi makanan setiap masa, terutama menyangkut skandal dan misteri. Kebohongan memang banyak melatari kisah kontroversi di Negeri Paman Sam tersebut dan kerap membuat publik di sana terkejut-kejut.
Indonesia juga negeri yang menyisakan banyak kontroversi, bahkan yang sudah lama berlalu kini diobok-obok lagi untuk dimunculkan, seperti kontroversi Supersemar. Kontroversi mengandung banyak interpretasi dan persepsi sehingga development editor perlu berhati-hati dalam mengemasnya dan menimbang segala risiko yang mungkin diterima. Apa yang harus dihindarkan memang pendiskreditan sosok tertentu secara vulgar karena bisa berbuntut somasi dengan tuduhan pencemaran nama baik. Energi akan banyak dikeluarkan untuk mengurus hal-hal seperti ini sehingga development editor pun tidak dapat tidur tenang dibelit kontroversi.
Selamat mengemas!
April 30, 2008
Sorry, no comments yet.