Ramai-ramai artis atau pejabat menulis buku adalah sebuah fenomena dan syukur-syukur menjadi tradisi bagi bangsa ini seperti halnya di Barat. Menulis buku bagi seseorang memang memberikan sentuhan intelektual, sentuhan sastrawi, dan sentuhan manusiawi bagi sosok seorang pesohor. Jarang publik yang mencibir ketika seorang pesohor menulis buku. Bahkan, apresiasi luar bisa tercurah begitu publik mengetahui bahwa Madonna menulis buku cerita anak berjudul “The English Rose”.
Mengemas popularitas bagi sebuah penerbit memang menantang karena menjanjikan juga keuntungan yang tidak sedikit. Figur-figur populer dapat dicari melalui berbagai peran di dalam masyarakat seperti berikut ini.
Pejabat atau Tokoh Politik
Artis/Selebritis (Aktor, Aktris, Penyanyi, Pelawak)
Presenter/Penyiar
Trainer/Motivator
Da’i/Pendeta
Olahragawan/Atlet
Pengusaha
Ilmuwan
Sastrawan
Karena itu, memburu para pesohor menjadi seni tersendiri bagi seorang acquisition editor (editor pemerolehan) dan mengemasnya menjadi buku yang inspiratif juga menjadi tantangan tersendiri bagi seorang development editor. Biasanya keberhasilan mengemas buku seorang pesohor menjadi kebanggaan tersendiri.
Para pesohor umumnya orang yang sibuk dan tidak bisa menulis—hanya dalam kasus tertentu saja mereka bisa menulis sastra, seperti puisi. Dalam hal ini, penerbit harus menyiapkan seorang ghost writer ataupun co-writer yang andal dan mau mengikuti ke mana pun sang pesohor pergi. Pilihan kemasan buku pun bisa bervariasi, semacam biografi, autobiografi, refleksi hidup, kiat menapak karier, cerita (novel atau cerpen), ataupun tips-tips.
Kasus terbaru perburuan para pesohor adalah sosok Tukul Arwana yang dikemas oleh beberapa penerbit. Tukul diburu untuk bicara soal kisah hidupnya, soal kiatnya menjadi pelawak yang sukses, ataupun refleksi hidupnya. Banyak orang ingin tahu kisah Tukul sebenarnya dan para penerbit pun berpikir buku Tukul akan laku laris manis. Di sinilah pertarungan kemasan antara penerbit yang satu dan lainnya dimulai. Bisa jadi menjelang Pemilu 2009, sosok Tukul pun kembali dikemas dengan judul “Tukul Mau Jadi Presiden”.
Dalam daftar development editor selalu ada nama-nama pesohor. Untuk hal ini, pikiran harus dibalik. Biasanya development editor memikirkan gagasan-gagasan topik menulis, lalu mencari penulis yang dianggap mampu atau melakukan penulisan sendiri. Nah, sekarang bahan tulisan itu berwujud makhluk bernama public figure. Sang development editor pun perlu menyelami tokoh jagoannya dan menciptakan topik-topik yang bisa dilejitkan dari sang tokoh. Untuk pelatihan, Anda bisa mengeksplore tokoh-tokoh berikut ini untuk menulis sesuatu. Apa saja (bisa lebih dari satu)?
Roy Suryo
Iwan Fals
Sandiaga Uno
Tora Sudiro
Prabowo
…
Mengemas popularitas memang memerlukan kejelian menangkap hal-hal menarik sekaligus mampu mengundang keingintahuan orang banyak. Keberhati-hatian diperlukan karena popularitas kerapkali terbatasi oleh momentum saat sang popular lagi berada di atas. Ketika sang popular mulai meredup, buku pun praktis akan meredup penjualannya. Karena itu, dapat juga dipikirkan buku-buku evergreen dari sang pesohor. Kasus seperti yang dilakukan Madonna merupakan ide cerdas karena Madonna menulis bukan tentang dirinya, melainkan buku cerita anak.
Selamat mengemas!
April 30, 2008
Sorry, no comments yet.