post Category: Buletin Manistebu — admin @ 2:36 pm — post

KENALI PEMBACA SASARAN ANDA (BISNIS)

Pembaca sasaran atau kerap disebut juga audiens menjadi unsur penting dalam setiap keputusan penerbitan buku. Salah satu  syarat yang terpetakan bahwa pembaca sasaran harus terdefinisi jelas—jika perlu secara spesifik usia, jenis kelamin, status sosial, maupun kebutuhannya. Dengan demikian, dapat diprediksi ataupun diasumsikan berapa kekuatan sebuah naskah di pasar.

Sebuah buku diharapkan berpihak pada kecenderungan maupun tren pasar (baca: pro-pasar) atau malah sebagai blessing in disguise justru menciptakan tren tersendiri (tren setter). Karena itu, seorang penulis maupun editor diharapkan peka terhadap keinginan, kebutuhan, ataupun harapan pasar pembaca.
Ketika perceraian meningkat, apalagi dalam usia perkawinan sangat singkat, seorang penulis bisa membaca kebutuhan untuk para pengantin baru yaitun bagaimana para pengantin bisa merancang visi dan misi rumah tangganya untuk jangka panjang—tidak cukup hanya dengan cinta ataupun kasih. Alhasil, hal ini menjadi ide dengan pembaca sasaran para pengantin baru atau pasangan muda sebagai buku panduan ataupun buku pengembangan diri.

Buku-buku yang ditujukan kepada pembaca sasaran tertentu bisa jadi tidak terlalu dibutuhkan oleh pembaca sasaran  yang dimaksud. Misalnya, naskah ‘Menjadi Bintang Kelas’ yang ditujukan kepada pelajar kelas menengah. Dalam hal ini ternyata tidak banyak pelajar kelas menengah yang berhasrat menjadi bintang kelas sehingga pembaca sasaran buku ini tampak luas, tetapi yang membutuhkannya sedikit.

Jadi, baik penulis  maupun penerbit harus sama-sama menganalisis pembaca sasaran karena dapat terjadi beberapa kemungkinan:
• Pembaca sasaran luas, terarah, tetapi tingkat kebutuhan sedikit (misalnya, buku kisah-kisah penemuan)
• Pembaca sasaran luas, terarah, dan tingkat kebutuhan besar (misalnya, buku sukses berbisnis)
• Pembaca sasaran tidak luas, terarah, dan tingkat kebutuhan banyak (misalnya, buku kedokteran)
• Pembaca sasaran tidak luas, terarah, tetapi tingkat kebutuhan sedikit (misalnya, buku terapi kanker)

Hal yang menjadi perhatian tentu pembaca sasaran yang TIDAK TERARAH dan TINGKAT KEBUTUHAN YANG TERBATAS (sedikit). Jikalau naskah tidak mampu mendefinisikan pembaca sasaran secara jelas termasuk tingkat kebutuhan beserta data dan argumennya, alamat naskah tidak direkomendasikan untuk terbit. Adalah sesuatu yang menyedihkan naskah yang terbit menjadi buku tidak dibaca oleh banyak orang, selain juga mengakibatkan kerugian besar dari sisi produksi dan penjualan buku.

Mengenali pembaca sasaran memang seperti perkara sepele, tetapi penting untuk memperkaya gagasan seorang penulis dengan berlaku empati terhadap siapa yang dia tuju untuk membaca bukunya. Bagi penerbit, analisis pembaca sasaran juga menjadi indikator keputusan menerbitkan.

BUKU UNTUK KAUM IBU (TREN)

Wacana apa yang menarik untuk kaum ibu kini? Jawabannya 4K (Keluarga-Kecantikan-Kesehatan-Kisah). Para ibu adalah pasar emosional yang  juga dalam sebagian besar keluarga adalah pengambil keputusan membeli. Para ibu yang umumnya kini berasal dari generasi X (mereka yang lahir pada tahun 70-an) lebih berpendidikan dan punya kepedulian terhadap aktivitas membaca buku.

Mereka mencari apa yang mereka butuhkan dan mereka inginkan, terutama bagi DIRI MEREKA SENDIRI, ANAK MEREKA, SUAMI MEREKA, dan akhirnya KELUARGA MEREKA. Ibu-ibu dengan mudah bisa tersulut oleh iklan, rekomendasi teman, ataupun solidaritas. Buku Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta menjadi bacaan favorit ibu-ibu Indonesia dari jenis KISAH karena mereka sama-sama tergerak akibat promo gencar dan juga pujian dari mulut ke mulut.

Dengan fenomena ini, imprint buku khusus wanita tampaknya menjadi perhatian para penerbit. Penerbit Mizan Group pernah mengusung imprint Qanita. Penerbit Pena Publishing yang lagi naik daun tidak membuat imprint khusus, tetapi dominasi buku untuk wanita menjadi ciri kuat penerbit ini seperti penggunaan warna soft dan berkarakter feminis pada cover serta juga judul-judul yang memang untuk wanita, seperti Khadijah: The True Love Story, Aisyah, dan Al-Quran Wanita. Penerbit baru Salamadani Group mengusung imprint Madanisa.

Kaum wanita dan kaum ibu dalam jangka panjang masih menjadi pasar yang potensial untuk buku. Kaum ibu memang tidak akan setia pada brand, tetapi lebih ngeh pada produk (judul) berikut implikasi ataupun pengaruhnya terhadap hidup mereka (dan juga keluarga mereka). Fenomena ini bisa kita lihat pada perkembangan media parenting. Awalnya sangat terkenal Tabloid Nakita, tetapi kemudian makin banyak varian dari jenis tabloid dan majalah parenting, termasuk dari brand asing seperti Parent’s Guide.

WORK MADE FOR HIRE (MANAJEMEN)

Bukan karena berprinsip ‘tidak ada rotan, akar pun jadi’ sehingga penerbit memberlakukan proses akuisisi naskah dengan cara work-made-for- hire (pengadaan mandiri). Namun, prinsip speed (kecepatan)- lah yang digunakan.
Work-made-for- hire adalah proses akuisisi naskah dengan memberdayakan kemampuan internal penerbit, seperti editor untuk menulis naskah sendiri. Biasanya penerbit melakukan rapat redaksi untuk menstimulus ide-ide brilian tentang naskah. Lalu, ide-ide yang tercetus direalisasikan menjadi tugas penggarapan naskah. Di sinilah para editor yang memiliki tipikal sebagai writer (seorang dengan kemampuan menulis yang baik) diminta menyelesaikan naskah dengan imbalan tertentu dan deadline tertentu pula.

Penerbit-penerbit yang berorientasi kecepatan pasti sangat membutuhkan editor-editor bertipikal writer ini dan sekaligus kalau perlu bertipikal jurnalis. Soal yang terakhir, para editor bertipikal jurnalis akan memburu narasumber yang memahami betul apa yang hendak ditulis. Makanya jangan heran seorang editor yang berlatar pendidikan teknik, tetapi piawai menulis, bisa sangat bagus menghasilkan naskah tentang ‘budidaya jambu bangkok’ misalnya..

Sisi buruknya, terkadang kemampuan editor semacam ini dipakai oleh penerbit untuk mereview naskah dan ‘mencuri’ ide bagus naskah tersebut. Di tangan editor yang piawai menulis, sebuah naskah beride bagus dan ternyata kurang baik hasil penulisannya, bisa menjadi karya lain yang lebih menjual.. Namun, karya-karya seperti ini pasti miskin berkah karena bagaimanapun didapatkan dari hasil ‘mencuri’ ide.

Penerbit jika ingin menempuh jalan cepat dan menghasilkan karya-karya yang direncanakan (solicited) memang bisa melakukan praktik work-made-for- hire. Untuk itu, penerbit perlu membuka ruang stimulus ide dengan baik, misalnya melanggankan para editor media-media yang relevan dan bagus; mengadakan acara nonton bersama film-film bagus; mendiskusikan buku-buku dari luar; melanggankan majalah perbukuan luar negeri seperti publisher weekly; mengikutkan editor dalam acara-acara publik; dan mengadakan katalog-katalog buku dari luar negeri.

Sorry, no comments yet.

Write Your Comment

Comment Guidelines: Basic XHTML is allowed (a href, strong, em, code). All line breaks and paragraphs will be generated automatically.

You should have a name, right? 
Your email address, I promised I won't tell it to anyone. 
If you have a web site or blog, you can type the URL right here. 
This is where you type your comments. 
Remember my information for the next time I visit.