post Category: Good Writing — admin @ 8:56 am — post Comments (0)

“Saya tidak akan menulis buku dengan mengikut tren (selera) masyarakat. Tapi, saya akan menulis sesuai dengan idealisme tentang apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat.”

Kalimat model kebulatan tekad seperti ini terkadang ditegaskan oleh para penulis, baik pemula maupun sudah bukan pemula lagi. Seolah-olah ada dikotomi antara tren penulisan dan kebutuhan masyarakat. Dan saya merasa ini adalah kalimat disorientasi dari seorang penulis.

Mengapa disorientasi? Ya, seolah-olah menulis buku mengikuti tren bukanlah idealisme. Lalu, seolah-olah menulis buku yang dibutuhkan oleh masyarakat bukanlah mengikut tren. Perlu diingat bahwa munculnya sebuah tren terkadang karena dipicu oleh kebutuhan.

Contoh klasik yang sering yang saya kemukakan adalah ketika terjadi penurunan harga laptop atau munculnya laptop-laptop murah. Hal ini memicu pembelian laptop besar-besaran dan kemudian menjadi tren penggunaan laptop, terutama juga dipicu oleh munculnya berbagai fasilitas hot spot di tempat-tempat umum. Dari tren penggunaan laptop ini kemudian muncul kebutuhan masyarakat akan pengetahuan soal memilih dan merawat laptop. Penulis yang jeli akan memanfaatkan tren dan sekaligus kebutuhan ini untuk menulis buku tentang laptop.

Dalam penulisan bukunya kemudian sang penulis bisa menampakkan idealismenya. Apakah ia akan menulis buku laptop yang asal jadi atau dia menulis buku laptop yang benar-benar berdasarkan hasil riset kebutuhan masyarakat pengguna laptop. Tentu hal ini berbeda dengan kutipan tekad di atas.

Menulis buku populer juga membutuhkan idealisme dari penulis. Menulis buku yang serius pun sama-sama membutuhkan idealisme. Bahkan, Bondan Winarno sempat menyindir dikotomi antara buku serius dan buku populer. Menurut dia: “Menulis buku itu saja sudah saya anggap serius. Bagaimana mungkin ada pula kategori buku serius?”

Kalau dianggap bahwa penerbit mementingkan market dan alhasil disebut bahwa buku yang marketable itu cenderung buku yang tidak bermuatan idealisme, hal itu sungguh keliru. Jangan campur adukkan pengertian buku populer yang marketable dengan aktivitas penerbitan yang tidak profesional sehingga menggarap buku populer maupun buku tidak bergenre pop secara asal-asalan. Tidak semua penerbit begitu bodohnya mau menerbitkan buku bergenre pop dengan asumsi asal laku.

Benar ada asumsi: “Buku yang laku, belum tentu buku yang bagus. Buku yang bagus, belum tentu buku yang laku!” Tapi, dalam asumsi ini terdapat satu lagi: “Buku yang laku sekaligus buku yang bagus!” Siapa penulis dan penerbit yang bisa menghasilkannya? Tentu saja mereka yang bermental pejuang sekaligus bermental juara. Tidak peduli buku itu bermuatan fiksi, nonfiksi, ataupun faksi semuanya digarap secara apik dan profesional.

Ada satu hal yang patut dipikirkan seorang penulis buku mengapa ia harus menerbitkan bukunya. Hal yang terpenting itu adalah bukunya dibaca sebanyak mungkin orang. Dengan demikian, buah pikirannya bisa sampai ke sebanyak mungkin orang sehingga dampaknya buku menjadi laris. Bukan soal uang yang dipikirkan, melainkan bagaimana buku tersebut mempengaruhi sebanyak mungkin orang. Dan kita tahu pada zaman serba canggih seperti saat ini tentu diperlukan kiat tersendiri menarik perhatian orang untuk membaca buku kita. Itulah sebabnya dibutuhkan orientasi terhadap marketing. Mustahil sebagai penulis kita bertahan tanpa ada idealisme sedikit pun tentang pengemasan maupun pemasaran buku.

Okelah Anda sebut bisnis itu tidak idealis, yang idealis itu adalah membuat sebuah buku penting penuh filosofi dan pemikiran. Lalu, siapa yang kira-kira mau membaca buku Anda? Anda mungkin berpikir sejenak untuk menjawab dan ketika itu pula, Anda sebenarnya sudah berpikir soal pasar dan promosi. Bagaimana Anda mengatakan pasar dan promosi itu tidak idealis?

So what gitu lho? Nggak usah pusing-pusing dah, tulis saja apa yang Anda pikirkan dan pikirkan dulu apa yang hendak Anda tuliskan. Ujung-ujungnya pasti pembaca sasaran: siapa saja dan berapa besar yang ingin Anda tuju!

written by Bambang Trim 

post Category: Good Writing — admin @ 7:00 am — post Comments (0)

Tidak salah memang apabila adalah pendapat bahwa menulis itu gampang, bahkan menulis buku sekalipun. Terkadang dengan berbagai metode, seorang penulis yang kadang juga baru menulis satu-dua judul buku dan itu pun bukan menjadi buku yang laris atau best seller, berani membuat training menulis buku dan mengatakan bahwa menulis itu gampang–self-publishing itu juga mudah.

Saya walaupun masih terbilang baru, mulai menulis buku sejak 1994 berupa buku pelajaran pesanan dari seorang makelar. Lalu, di penerbit tempat saya bekerja, saya pun mulai menulis buku anak Islami. Akhirnya, sebuah proses panjang saya lalui untuk bisa menulis buku yang bagus dan tentunya diminati banyak orang. Alhamdulillah, kini saya telah menulis lebih dari 70 judul buku. Saya tidak bisa menyebutkan angka spesifik karena dokumentasi yang boleh dibilang tidak rapi. Beberapa portofolio tulisan saya dalam bentuk artikel maupun buku ada yang hilang dan kadang-kadang perlu diingat-ingat juga.

Nah, satu yang saya ingat ketika tejadi euforia reformasi, saya sempat menyusun buku yang didokumentasikan dari berbagai liputan media massa. Saya belajar banyak tentang hal ini dari Idi Subandy Ibrahim–spesialis menulis buku atau menyunting buku dengan cara republishing article. Buku yang saya buat berjudul “Para Tokoh di Balik Reformasi: Lokomotif itu Bernama Amien Rais” dan “Para Tokoh di Balik Reformasi: Merintis Jalan Kritis”. Ketika menulis buku ini, saya membaca ratusan artikel dan liputan media, berbagai buku politik dan biografi–sebuah kerja panjang yang melelahkan untuk buku hanya seukuran saku. Buku ini lumayan laku.

Sewaktu kali pertama mendirikan MQ Publishing, saya langsung ngebut dengan gagasan optimalisasi brand image Aa Gym. Jadilah kemudian buku Aa Gym Apa Adanya: Sebuah Qolbugrafi ( judul Aa Gym Apa Adanya langsung dari Aa dan Sebuah Qolbugrafi saya yang memberikannya). Mulai saya merancang sebuah biografi praktis yang diilhami dari biografi Muhammad Ali. Jadilah kemudian buku tersebut menyodok pasar dengan angka penjualan lebih dari 120 ribu eksemplar. Buku ini pun diikuti dengan dua buku lain, yaitu Jagalah Hati: Step by Step Manajemen Qolbu dan Welcome to DT. Saya memang tidak pernah mengatakan bahwa buku Jagalah Hati hampir murni digagas dan ditulis seratus persen oleh saya ditambah gagasan Aa Gym yang sempat tersebar di beberapa buku. Saya coba merancang MQ sebagai sebuah sistem yang bisa dikomunikasi secara langkah demi langkah. Alhasil, buku tersebut pun laku keras, terutama karena digunakan sebagai buku wajib pelatihan MQ.

Selama tiga tahun saya mencoba menulis dari 1991-1993, selama itu pula tulisan saya ditolak oleh penerbit. Saya merasakan perjuangan luar biasa untuk bisa menarik perhatian penerbit, belajar dari para senior, membaca berbagai literatur menulis, hingga mengikuti pelatihan jurnalistik. Dalam pelatihan jurnalistik, saya tahu begitu banyak jenis tulisan. Teori yang dijejalkan juga banyak sehingga sebenarnya banyak orang yang bingung ketika mulai menulis. Mereka mau menulis apa? Artikel, feature, berita, esai, atau resensi?

Jikalau hendak melatih kemampuan menulis, ingatlah hal-hal taktis. Menulis tidak gampang karena kalau gampang, banyak sebenarnya orang bisa menulis dalam sekali tepuk. Menulis perlu berpikir taktis. Apa yang saya lalui selama tiga tahun, tidak perlu Anda ikuti pula. Anda tinggal menyerap pengalaman menulis saya atau orang lain sehingga terdapat short-cut (jalan pintas) untuk Anda lalui. Apa yang penting adalah berpikir taktis bagaimana keterampilan menulis bisa dikuasai.

Karena itu, saya pun membuat kerangka taktis menulis yaitu prewriting-writing-postwriting. Dalam menulis buku saya buat kerangka taktis H24H sehingga Anda bisa cepat menguasai dan paham; bukan gampang menulis dan selamanya justru tidak bisa menulis.

Tahap awal yang saya pentingkan adalah taktis dalam menstimulus gagasan karena gagasanlah yang menjadi titik tolak kita menulis. Lalu, taktis dalam memetakan gagasan dengan mengambil contoh metode mind mapping dari Tony Buzan. Saya juga mengadopsi teknik hypnotic writing-nya Joe Vitalae sehingga jadilah Anda menstimulus gagasan dengan menggunakan 5 panca indera + intuisi sebagai indera keenam.

Pelatihan menulis hanya sebuah wahana atau kendaraan. Kendaraan tanpa BBM tidak akan melaju. Karena itu, Anda perlu motivasi dari dalam diri dan orang lain sehingga bisa menjadi BBM. Tujuan dan niat menjadi oli yang melancarkan pergerakan mesin gagasan. Akan semakin jelas ketika kendaraan Anda dilengkapi dengan GPS (global positioning system) untuk menunjukkan arah. GPS ini saya berikan dalam bentuk akses dan peta penerbitan buku di Indonesia. Dengan pengalaman mendirikan beberapa penerbit, pernah mendirikan self-publishing, dan juga mengkonsultani beberapa penerbit, saya insya Allah bisa berbagi kepada Anda tentang isi perut penerbit tanpa mengira-ngira.

Terakhir, kalau kita berkendaraan dan ingin sukses, kuasai rambu-rambu dan belajarlah pada ahlinya. Adalah penting mendapatkan informasi yang benar soal seluk-beluk penulisan buku karena Anda berharap buku Anda berada pada jalan yang benar bukan sekadar terbit. Rambu-rambu yang penting Anda ketahui adalah sistem akuisisi naskah di penerbit, soal hak cipta atau hak kekayaan intelektual, dan juga perjanjian penerbitan. Jangan sampai Anda mendapat informasi keliru mengenai penerbit, editor, ataupun agen naskah (literary agent) karena dunia buku memang seolah tersamar.

Jadi, jangan terlalu senang dengan yang gampang. Carilah yang taktis dan praktis agar Anda bisa menemukan jalan pintas untuk menulis. Semoga sukses!

written by Bambang Trim, August 2008 

Bambang Trim’s Inspiring Training:

  • Menulis Buku untuk Orang Awam
  • Editor Profesional
  • H24H: Professional Book Writing (23-24 Agustus 2008)
  • Professional Text Book Writing
  • Powerfull Book Publishing
  • Editor Prosional Tingkat Lanjut
  • dsb.